2025-08-08
Pada Mei 2021, Siti, seorang wanita berusia 38 tahun, menemukan adanya benjolan di payudara kirinya. Karena benjolan itu tidak menimbulkan rasa sakit, awalnya ia tidak terlalu memperdulikannya. Namun, pada Juli, ia menyadari benjolan tersebut membesar, sehingga ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit setempat. Setelah pemeriksaan fisik sederhana dan USG, ia didiagnosis diduga kanker payudara. Dokter menyarankan untuk melakukan biopsi, dan beberapa hari kemudian, Siti pun dipastikan menderita kanker payudara.

Siti (38 tahun), Operasi Minimal Invasif +Rekonstruksi Payudara
Karena usianya masih muda, Siti mencari berbagai rumah sakit di Indonesia, berharap bisa menyembuhkan kanker payudara tanpa mengorbankan kualitas hidupnya. Namun, karena ukuran tumornya cukup besar, beberapa rumah sakit setempat menyarankan pengangkatan seluruh payudara (mastektomi), yang membuatnya merasa sangat sedih.
Atas rekomendasi keluarga dan teman, Siti akhirnya menemukan Pusat Diagnostik dan Pengobatan Tumor Payudara Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan, yang dipimpin oleh Dr. Zeng Zhiqiang. Saat berdiskusi dengan keluarga Siti sebelum operasi, Siti dan keluarganya awalnya menginginkan pengangkatan total payudara, karena khawatir jaringan payudara yang tersisa akan berisiko terkena kanker kembali. Mereka merasa pengangkatan total lebih aman.
Namun, Dr. Zeng Zhiqiang menjelaskan bahwa timnya tidak hanya berupaya mengangkat seluruh jaringan kanker secara tuntas, tetapi juga memanfaatkan teknologi robot bedah Da Vinci dan teknik laparoskopi internasional yang canggih untuk meminimalkan pembentukan bekas luka pada payudara. Selain itu, mereka akan melakukan rekonstruksi payudara dengan implan setelah tumor diangkat. Pendekatan ini tidak hanya mencegah trauma fisik dan psikologis akibat kehilangan payudara, tetapi juga menjadi solusi minim invasif dari sisi fisik dan psikologis sekaligus.
Sebelum operasi, dokter anestesi memberikan anestesi secara presisi dengan mempertimbangkan berbagai faktor, sehingga Siti tidak merasakan ketidaknyamanan selama prosedur.
Operasi dilakukan dengan membuka sayatan kecil di area ketiak, lalu membuat sayatan tambahan untuk menangani kelenjar getah bening di ketiak. Setelah itu, jaringan dan tumor yang terpengaruh diangkat, dan implan payudara dipasang untuk rekonstruksi.
Hasilnya, hanya ada satu sayatan kecil di ketiak, sehingga bentuk dan keutuhan payudara tetap terjaga seperti sebelum operasi. Metode ini tidak hanya memperbaiki kondisi kesehatan pasien, tetapi juga mempertahankan keindahan estetika payudara, kepercayaan diri, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Dr. Zeng menegaskan: "Teknologi medis kami yang maju dapat mengurangi rasa sakit pasien, menghilangkan penyakit dan risiko kanker, serta menjamin kualitas hidup yang tinggi."
Kini, Siti telah menyelesaikan kemoterapi dan operasi rekonstruksi payudara, dan sedang menjalani terapi tamoxifen selama lima tahun untuk menurunkan risiko kekambuhan.
Mengulas kembali perjuangannya melawan kanker, Siti mengaku penuh rasa haru dan takjub pada kekuatan dirinya yang mampu mengatasi tantangan ini. Pada awalnya, ia merasa takut karena kurang memahami kanker payudara. Namun, setelah bertemu banyak pasien kanker payudara di Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan dan mendengarkan kisah mereka, ia menemukan harapan. Cerita-cerita tersebut membuatnya lebih optimis dan positif.
Siti berterima kasih kepada tim Dr. Zeng Zhiqiang atas layanan medis yang luar biasa dan dukungan mental yang diberikan, sehingga ia dapat dengan berani menghadapi kanker payudara dan kembali menyalakan semangat hidupnya.
Jabatan:
Wakil Direktur Rumah Sakit Bedah Foshan Fosun Chancheng (sebelumnya Rumah Sakit Pusat Chancheng Foshan)
Wakil Direktur Departemen Bedah Umum, Direktur Departemen Payudara, Pemimpin Akademik
Dokter Spesialis, Profesor, Magister Kedokteran, Pembimbing Magister