Amisha, Seorang Penyintas Kanker Payudara yang Berhasil Melawan Penyakitnya di Luar Negeri

2025-08-06

Amisha (saat itu berusia 34 tahun) adalah seorang pasien kanker payudara asal Indonesia. Berikut adalah kisah perjalanannya dalam mencari pengobatan ke Tiongkok. Cerita ini menggambarkan keteguhan hatinya dan penuh dengan harapan.

5736239e-fe11-4704-b983-8e53aeb3d03f.png.png

Amisha (34 tahun), Pasien Kanker Payudara HER2-Positif

Dalam pemeriksaan kesehatan rutin di tempat kerjanya, hasil laporan menunjukkan bahwa pada payudara Amisha teraba satu atau beberapa benjolan. Benjolan tersebut dapat menyatu membentuk massa, berbentuk seperti tali, atau tidak memiliki batas yang jelas. Teksturnya kenyal namun tidak keras, dapat digerakkan, dan terasa nyeri saat disentuh. Ditekankan bahwa ia perlu segera melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit untuk mencegah risiko yang lebih serius.

Setelah tiba di rumah sakit, dokter menyarankan Amisha untuk menjalani biopsi untuk memastikan apakah benjolan tersebut adalah kanker. Tiga hari kemudian, hasil biopsi keluar dan menyatakan bahwa Amisha didiagnosis menderita kanker payudara dengan ukuran tumor lebih dari 8 cm.

Konsultasi dengan dokter bedah payudara memberikan lebih banyak informasi, sekaligus berbagai hal penting yang perlu dipertimbangkan. Amisha didiagnosis menderita kanker payudara stadium 1, tingkat 3, dengan status HER2-positif. Stadium 1 menandakan kanker masih berada pada tahap awal, tetapi tingkat 3 menunjukkan bahwa pertumbuhan kanker relatif cepat. Selain itu, kanker payudara HER2-positif biasanya lebih agresif dibandingkan jenis lainnya.

Amisha juga memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara—ibunya dan salah satu tantenya pernah didiagnosis dengan penyakit yang sama.

Amisha sangat ingin memiliki anak, sehingga ia perlu mempertimbangkan pelestarian kesuburan karena beberapa jenis pengobatan yang akan dijalani dapat memengaruhi kemampuannya untuk hamil.

Menghadapi berbagai keputusan besar, Amisha banyak melakukan riset sendiri secara daring mengenai kanker payudara. Ia mendatangi beberapa fasilitas medis lokal di Indonesia dan berkonsultasi dengan beberapa dokter spesialis onkologi dari institusi yang berbeda. Karena kondisinya yang kompleks dan keinginannya untuk tidak mengganggu kemampuan reproduksi, banyak dokter menyatakan bahwa mereka tidak bisa memberikan jaminan penuh bahwa pengobatan kanker dapat dilakukan tanpa berdampak pada kesuburannya. Amisha ingin, setelah sembuh, dapat hidup seperti wanita normal lainnya—menikah dan memiliki anak.

Atas rekomendasi dari komunitas penyintas kanker, ia mengetahui bahwa Rumah Sakit Kesehatan Fosun (Rumah Sakit Fosun Chancheng di Foshan, Guangdong) memiliki reputasi internasional dalam pengobatan kanker payudara. Rumah sakit ini memiliki banyak dokter spesialis berpengalaman dalam penanganan tumor ganas, radioterapi, dan terapi terpadu. Mereka memiliki pengalaman dengan pendekatan multidisipliner dari pusat kanker ternama di Amerika Serikat, khususnya dalam perencanaan radioterapi untuk kanker payudara serta manajemen komplikasi.

Dengan dukungan penuh dari keluarganya, Amisha memutuskan untuk segera pergi ke Tiongkok demi mendapatkan perawatan medis terbaik di dunia.

Dengan bantuan staf Fosun International yang bertugas di Indonesia, Amisha memulai perjalanannya mencari pengobatan ke Tiongkok. Pada awal kedatangannya, ia merasa cemas dan tidak tenang. Namun, selama seluruh proses pengobatan, semua tenaga medis dan staf sangat sabar, detail, dan ramah. Mereka secara berulang menjelaskan kondisi Amisha serta menjelaskan berbagai pilihan terapi dalam bahasa Indonesia, berupaya keras menenangkan kecemasan dan ketakutannya.

Di Departemen Medis Internasional Rumah Sakit Fosun Chancheng di Foshan, Guangdong, Amisha menerima penanganan dari tim dokter terbaik dari berbagai bidang yang bersama-sama menyusun rencana terapi yang komprehensif. Dokter penanggung jawab utamanya adalah Dr. Han Liangfu. Berdasarkan kondisi dan situasi Amisha, tim medis merekomendasikan dimulainya dengan kemoterapi sebelum operasi. Amisha memutuskan untuk melakukan mastektomi bilateral (pengangkatan kedua payudara) setelah selesai menjalani kemoterapi.

Namun, sebelum itu, spesialis kesuburan harus terlebih dahulu mengambil dan membekukan sel telur dari ovarium Amisha agar ia tetap memiliki peluang untuk hamil di masa depan.

Pada 2 Agustus 2020, tak lama setelah prosedur pengambilan sel telur dilakukan oleh spesialis kesuburan, Amisha memulai rangkaian kemoterapinya. Pengobatan mencakup 4 siklus kombinasi Doxorubicin dan Cyclophosphamide, dilanjutkan dengan 12 siklus Paclitaxel. Selain obat kemoterapi, Amisha juga menerima suntikan Pegfilgrastim—obat yang membantu merangsang pertumbuhan sel darah putih untuk mengurangi risiko infeksi selama kemoterapi.

Setelah menyelesaikan kemoterapi pada Desember 2020, Amisha menjalani operasi mastektomi bilateral pada 19 Januari 2021.

0daf8262-bc77-43b0-bc3e-45aec0bd41d1.png.png

Luka operasi Amisha pulih jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Jahitan sangat rapi dan proses penyembuhan berlangsung cepat. Sebelumnya, Amisha sangat khawatir mengenai simetri bentuk payudara pascaoperasi dan apakah bekas luka akan memengaruhi penampilannya. Namun berkat dukungan terus-menerus dan kepastian yang diberikan oleh tim medis, ia akhirnya kembali percaya diri dan memperoleh hasil pemulihan yang hampir sempurna.

Tiga Saran dari Tim Medis Dr. Han Liangfu untuk Pasien Kanker Payudara

1.  Lakukan pemeriksaan payudara secara rutin

Dr. Han Liangfu, dokter spesialis onkologi, menyampaikan: “Selama bertahun-tahun, saya telah merawat banyak pasien kanker payudara dan berhasil mendeteksi penyakit mereka melalui pemeriksaan payudara sendiri atau pemeriksaan klinis oleh dokter. Pemeriksaan tersebut membantu mereka dalam mendapatkan diagnosis dan pengobatan lebih awal, yang pada akhirnya memberikan hasil pengobatan yang jauh lebih baik.”

2. Jangan takut untuk mencari bantuan

Pasien kanker payudara sebaiknya tidak ragu untuk mencari dukungan dari orang-orang di sekitar mereka maupun dari tenaga medis profesional yang berdedikasi menjaga hidup Anda. Berbicaralah dengan dokter, perawat, dan anggota tim medis lainnya—bukan hanya tentang gejala fisik, tetapi juga mengenai masalah mental seperti depresi dan kecemasan yang mungkin muncul atau memburuk setelah diagnosis kanker.

3. Pentingnya komunitas: temukan orang yang memahami Anda

Berinteraksi dengan sesama pasien yang mengalami hal serupa, berbagi pengalaman, dan saling memberi semangat sangatlah penting.

Saat ini, Amisha telah menyelesaikan rangkaian kemoterapi dan operasi pengangkatan payudara. Ia kini menjalani pengobatan tamoxifen selama lima tahun untuk menurunkan risiko kekambuhan kanker. Meskipun hasil operasi menunjukkan “margin yang bersih” (tidak ada sisa sel kanker), yang membuatnya merasa lega dan bersyukur, ia tetap menjaga kewaspadaan melalui pengobatan lanjutan.

Han Liangfu

Jabatan:
- Kepala Ahli Medis di Pusat Diagnostik dan Terapi Presisi Onkologi, Rumah Sakit Fosun Chancheng, Foshan
- Dokter Tamu di Departemen Onkologi Radiasi, Pusat Medis Universitas Rush, Amerika Serikat
- Mantan Wakil Kepala Departemen Onkologi Radiasi, Rumah Sakit Xijing, Universitas Kedokteran Militer Keempat
- Mantan Wakil Direktur sekaligus Kepala Departemen Onkologi di Rumah Sakit Internasional Evergrande Boao, Hainan

Konsultasi Gratis

Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251