2024-05-13
Hidung tersumbat dan keluar ingus bernanah selama lebih dari satu bulan—awalnya Ibu Zhang (nama samaran) dari Foshan mengira hanya flu biasa. Namun, lama-kelamaan ia merasa ada yang tidak beres. Setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, ternyata ia didiagnosis terkena kanker nasofaring.
Hidung tersumbat dan pilek, ternyata kanker nasofaring.
Tumor hilang setelah satu bulan kontrol pasca radioterapi.
Sejak Desember tahun lalu, Ibu Zhang mulai mengalami hidung tersumbat dan pilek. Awalnya ia mengira hanya terkena flu, lalu mengonsumsi obat flu selama beberapa hari. Gejalanya sempat sedikit membaik, sehingga ia tidak terlalu menghiraukannya.
Namun setelah lebih dari satu bulan, lendir dari hidungnya semakin kental, barulah ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Saat dilakukan endoskopi hidung, ditemukan benjolan di area nasofaring. Hasil pemeriksaan lanjutan melalui MRI dan biopsi pun mengarah pada diagnosis: kanker ganas nasofaring stadium III (T1N2M0).
Kabar ini membuat Ibu Zhang sangat cemas dan gelisah. Ia mulai mencari informasi tentang dokter dan rumah sakit terbaik untuk pengobatan kanker nasofaring. Setelah berkeliling ke beberapa tempat, akhirnya ia menemukan Dr. Lu Qiuxia, seorang spesialis kepala dan leher dari Pusat Diagnostik dan Terapi Presisi Kanker Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan.

(Dokter Lu sedang memeriksa pasien)
Pemeriksaan PET/CT yang dilakukan secara menyeluruh menunjukkan adanya lesi aktif metabolik tinggi di area nasofaring serta pembesaran kelenjar getah bening di kedua sisi leher, yang diduga merupakan metastasis.
“Kanker nasofaring umumnya sangat responsif terhadap terapi radiasi. Kita bisa mempertimbangkan kombinasi radioterapi dan kemoterapi,” ujar Dr. Lu menenangkan Ibu Zhang. “Radioterapi relatif lebih ringan dibanding operasi, tidak perlu pembedahan, tidak menimbulkan rasa sakit, jadi tidak perlu terlalu khawatir.”
Ibu Zhang kemudian menjalani terapi kombinasi radioterapi dan kemoterapi. Untuk area nasofaring, digunakan teknik Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT) dengan dosis 69 Gy dalam 30 kali sesi. Selama proses tersebut, ia juga menjalani dua siklus kemoterapi dengan regimen Cisplatin 100 mg/m².
Hanya dalam satu bulan setelah radioterapi, hasil evaluasi ulang menunjukkan kabar yang sangat menggembirakan: tumor di area nasofaring hampir sepenuhnya menghilang, gejala hidung tersumbat dan pilek pun membaik secara signifikan.

(Perbandingan citra medis sebelum dan sesudah pengobatan Ibu Zhang)
Ibu Zhang dan keluarganya merasa sangat puas dengan proses pengobatan yang nyaman dan hasil yang mengejutkan ini. Dalam setiap ungkapan mereka, tersirat pujian dan rasa terima kasih yang mendalam terhadap tim Pusat Onkologi Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan.

Ungkapan rasa terimakasih dengan sepenuh hati
"Kanker nasofaring cenderung lebih sering menyerang “Orang Guangdong.”
Kanker nasofaring merupakan jenis kanker yang cukup khas, dengan karakteristik pola penyebaran yang jelas berdasarkan ras, wilayah geografis, dan riwayat keluarga. Penyakit ini lebih sering menyerang orang beretnis Asia Timur (ras kuning). Sekitar 50% kasus kanker nasofaring di dunia terjadi di lima provinsi di bagian selatan Tiongkok — yaitu Guangdong, Guangxi, Hunan, Fujian, dan Jiangxi. Oleh karena itu, masyarakat yang berasal dari daerah-daerah tersebut perlu lebih waspada terhadap penyakit ini.
Di antara wilayah tersebut, Guangdong tercatat sebagai daerah dengan angka kejadian kanker nasofaring tertinggi di dunia. Karena itu pula, kanker ini kerap dijuluki sebagai "tumor Guangdong". Kanker nasofaring paling sering dialami oleh orang berusia antara 30 hingga 60 tahun, dan prevalensinya pada pria sekitar 2–3 kali lebih tinggi dibandingkan wanita. Gejala klinis yang umum meliputi lendir yang bercampur darah saat dikeluarkan melalui hidung atau tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
Waspadai Faktor Risiko Tinggi Kanker Nasofaring Ini!
Banyak pasien kanker nasofaring memiliki riwayat keluarga yang juga menderita kanker. Selain faktor genetik, kebiasaan hidup dan lingkungan juga berperan penting dalam meningkatkan risiko.
01. Faktor Genetik
Penelitian menunjukkan bahwa 12,3% pasien kanker nasofaring memiliki riwayat keluarga dengan kanker nasofaring, dan 21,6% memiliki riwayat keluarga dengan kanker jenis lain. Kanker nasofaring juga menunjukkan kecenderungan yang tinggi terjadi pada kelompok etnis tertentu.
02. Faktor Lingkungan
Penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara konsumsi nitrit (seperti amonium nitrit) dan kanker nasofaring. Makanan yang diasinkan, seperti asinan dan ikan asin, mengandung kadar nitrit yang tinggi. Di wilayah Guangdong, kandungan nikel pada tanah, air, dan beras lebih tinggi dibandingkan daerah lain, sehingga penduduk di sana berisiko mengalami ketidakseimbangan asupan nikel. Bahkan, kadar nikel yang terdeteksi pada rambut pasien kanker nasofaring juga lebih tinggi dibandingkan orang sehat. Eksperimen pada hewan menunjukkan bahwa paparan nikel berlebih dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring yang dipicu oleh nitrosamin.
03. Virus EB (Epstein-Barr)
Penelitian di bidang imunologi dan biokimia telah membuktikan bahwa infeksi virus EB memiliki hubungan yang erat dengan kanker nasofaring.
"Bahaya dan Gejala Kanker Nasofaring"
Pada tahap awal kanker nasofaring, jaringan kanker dapat menyerang tulang dasar tengkorak, saraf, dan pembuluh darah. Pasien mungkin mengalami sakit kepala sebelah yang kambuh-kambuhan, nyeri di bagian belakang kepala atau leher bagian atas.
Ketika tumor nasofaring membesar, dapat muncul gejala seperti hidung tersumbat di kedua sisi, batuk berdahak bercampur darah di pagi hari setelah bangun tidur, ingus berdarah saat membuang ingus, atau dahak berdarah yang tersedot kembali ke mulut.
Karena pertumbuhan jaringan kanker menutup mulut tuba eustachius di sisi yang terkena, pasien akan mengalami perasaan telinga yang tersumbat dan telinga berdenging. Seiring memburuknya kondisi, saraf pendengaran dapat rusak sehingga pendengaran menurun secara bertahap.
Sebagian besar pasien kanker nasofaring pada tahap awal mengalami pembengkakan kelenjar getah bening di leher, yang terasa seperti benjolan di leher. Pembengkakan ini sering salah didiagnosis sebagai peradangan. Jika benjolan di leher tidak mengecil setelah pengobatan anti-inflamasi, atau bahkan terus membesar dengan cepat — terutama jika benjolan terasa keras, tidak mudah digerakkan, dan terdiri dari beberapa benjolan yang menyatu tanpa rasa sakit — maka perlu segera diperiksakan ke dokter.
Kanker nasofaring juga dapat menyebabkan mati rasa pada wajah, kesulitan mengunyah, dan bila sudah parah serta menyerang saraf penglihatan, pasien akan mengalami penglihatan ganda (diplopia).
"Kanker Nasofaring Sensitif terhadap Radioterapi"
Kanker nasofaring adalah jenis tumor ganas yang cukup sulit dideteksi pada tahap awal. Pada stadium awal, kanker nasofaring seringkali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga sulit dikenali.
Namun, seperti banyak jenis kanker lainnya, pencegahan dan penanganan kanker nasofaring sangat bergantung pada deteksi dini, diagnosis dini, dan pengobatan sedini mungkin. Deteksi dan pengobatan pada tahap awal sangat penting untuk meningkatkan prognosis pasien dan menurunkan angka kematian. Pada stadium awal, kanker nasofaring memiliki tingkat keberhasilan pengobatan yang tinggi, dengan angka kesembuhan lebih dari 90%.
Metode utama pengobatan kanker nasofaring meliputi radioterapi, kemoterapi, dan imunoterapi. Ketiga metode ini perlu disesuaikan dengan stadium penyakit masing-masing dan dikombinasikan secara strategis untuk mencapai hasil pengobatan yang optimal.
Kanker Nasofaring Stadium Awal, Utamanya Diobati Dengan Radioterapi
Kanker nasofaring tergolong sensitif terhadap terapi radiasi. Karena struktur nasofaring yang kompleks, terletak di dasar tengkorak dan dekat dengan batang otak, kanker ini dapat menyebar ke atas hingga masuk ke dalam rongga tengkorak, atau ke bawah menuju kelenjar getah bening leher. Oleh karena itu, operasi pengangkatan menjadi sangat sulit dilakukan. Untuk kasus kanker nasofaring yang baru terdiagnosis dan belum mengalami metastasis, radioterapi menjadi metode utama yang digunakan, sekaligus merupakan pengobatan kuratif paling penting bagi jenis kanker ini.
Saat ini, teknik yang paling umum digunakan adalah radioterapi dengan intensitas termodulasi (IMRT). Pada kanker nasofaring stadium awal, hasil dari radioterapi tunggal sudah sangat baik, dengan tingkat kelangsungan hidup lima tahun mencapai lebih dari 90%.

Tumor Stadium Lanjut Lokal, Terapi Kombinasi adalah Pilihan Terbaik
Pada tumor stadium lanjut lokal, radioterapi tunggal kurang efektif, dengan tingkat kelangsungan hidup lima tahun hanya sekitar 60%. Oleh karena itu, dibutuhkan kombinasi pengobatan, yaitu menambahkan kemoterapi di atas dasar radioterapi untuk mencapai hasil yang lebih baik melalui terapi terpadu.
Kanker Nasofaring Stadium Lanjut dengan Metastasis, Terapi Sistemik Menjadi yang Utama
Pada kasus kanker nasofaring yang sudah menyebar (metastasis stadium lanjut), pendekatan utamanya adalah terapi sistemik. Saat ini, kombinasi kemoterapi dan imunoterapi menjadi rekomendasi utama. Tentu saja, rencana pengobatan untuk pasien kanker nasofaring dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi masing-masing pasien dan stadium penyakitnya.