5 Kali Terapi Laser Plasma, Bantu "Melangsingkan" Benjolan Kelopak Mata Dengan Mudah!

2025-04-09

Semakin lama mata semakin bengkak dan terasa nyeri
Perlahan-lahan semuanya jadi sulit terlihat jelas
Setelah diperiksa, penyebabnya adalah tumor!


 

Tiga tahun lalu, Tuan Zhang Bo (nama samaran) didiagnosis menderita kanker nasofaring. Meski telah menjalani radioterapi dan kemoterapi, sayangnya penyakitnya kembali kambuh.
Pada Mei 2024, musibah kembali menimpanya. Kelopak mata Tuan Zhang Bo membengkak dan terasa nyeri yang sangat hebat — seolah menjadi tanda bahwa “iblis” itu datang menantang lagi. Dokter pun mendiagnosisnya sebagai tumor metastasis dari kanker nasofaring, dan segera dilakukan operasi pengangkatan.


Hasil patologi pasca operasi menunjukkan bahwa ini adalah karsinoma non-keratinisasi tipe tidak berdiferensiasi. Penanda imunohistokimia menunjukkan CK+, EGFRumab95+, dan p40+, yang mengonfirmasi bahwa ini adalah kanker metastasis nasofaring yang mengerikan.
Setelah operasi, Tuan Zhang Bo memilih untuk
tidak melanjutkan terapi tambahan. Keputusan ini, tampaknya akan menjadi benih masalah yang tersembunyi di kemudian hari.


Namun, masa tenang itu tak berlangsung lama. Pada bulan Agustus, rasa nyeri dan bengkak yang familiar di kelopak matanya kembali menyerang, kali ini lebih ganas. Penglihatan Tuan Zhang Bo menjadi sangat terganggu, hidupnya seolah ditelan kegelapan. Hasil pemeriksaan ulang bagaikan air dingin yang menyiram habis harapan terakhir di hatinya — tumornya telah kambuh.

Menghadapi tantangan, Tuan Zhang Bo tidak menyerah, melainkan dengan berani memilih menjalani terapi radiasi SBRT dengan pisau gamma sesuai anjuran Profesor Wang Enmin, menggunakan skema PGTV20Gy/5f — bagaikan meraih sebatang jerami penyelamat terakhir di tengah kegelapan.

c03e4829-3db4-4374-83c5-19d9869f53e7.png.jpg

(Profesor Wang sedang menjawab pertanyaan dan memberikan penjelasan kepada pasien)

Keajaiban terjadi justru di saat yang tampaknya sudah tidak ada harapan. Hanya dengan 5 kali terapi radiasi presisi, seperti sapuan kuas ajaib, benjolan di area mata menyusut dengan cepat, gejalanya pun mereda secara signifikan. Cahaya kehidupan kembali menembus kegelapan dan menerangi jalan Tuan Zhang Bo untuk melangkah maju. Kini, dengan kondisinya yang mulai stabil, Zhang Bo memulai babak baru dalam hidupnya — menjalani kemoterapi dengan harapan baru.

531566cb-3679-4ca0-9102-ccd01f589c9a.png.jpg

Data menunjukkan bahwa 80% kasus kanker nasofaring di dunia terjadi di Tiongkok, terutama di wilayah Tiongkok Selatan seperti Guangdong dan Guangxi, yang merupakan daerah dengan angka kejadian sangat tinggi. Tingkat kejadian kanker nasofaring di sana mencapai 30-80 kasus per 100.000 penduduk setiap tahun. Angka ini bahkan 100 kali lebih tinggi dibandingkan sebagian besar negara lain di dunia. Oleh karena itu, kanker nasofaring juga dijuluki sebagai "Kanker Guangdong".


Pada tahap awal, kanker nasofaring mungkin tidak menimbulkan gejala apa pun. Seiring berkembangnya penyakit, pasien bisa mengalami serangkaian gejala seperti hidung tersumbat, telinga berdenging, ingus bercampur darah, penurunan kemampuan pendengaran, sakit kepala, mati rasa di wajah, penglihatan berbayang, serta benjolan di leher dan gejala lain yang berkaitan dengan kelumpuhan saraf kranial. Jika gejala-gejala tersebut muncul, berarti penyakit telah memasuki tahap lanjut atau stadium akhir.


“Kanker nasofaring cukup sensitif terhadap terapi radiasi”


Metode pengobatan kanker nasofaring terutama meliputi radioterapi (terapi radiasi), kemoterapi, dan imunoterapi. Ketiga metode ini perlu dikombinasikan secara berbeda sesuai dengan stadium penyakit yang dialami pasien.

Perlu diperhatikan bahwa pemeriksaan tindak lanjut setelah pengobatan komprehensif kanker nasofaring juga sangat penting. Tindak lanjut yang tepat waktu dapat membantu mendeteksi kekambuhan atau penyebaran tumor secara dini, sehingga intervensi dan pengobatan dapat dilakukan sesegera mungkin.


Untuk kanker nasofaring stadium awal, pengobatan utamanya adalah radioterapi (terapi radiasi).


Kanker nasofaring sangat sensitif terhadap terapi radiasi. Karena struktur nasofaring yang kompleks — terletak di dasar tengkorak dan dekat dengan batang otak — kanker ini dapat menyebar ke atas hingga ke dalam rongga otak, dan ke bawah ke kelenjar getah bening leher. Hal ini membuat operasi pengangkatan menjadi sangat sulit. Oleh karena itu, untuk kasus kanker nasofaring yang baru terdiagnosis tanpa penyebaran (metastasis), pengobatan utamanya adalah radioterapi. Ini juga merupakan metode kuratif utama untuk kanker nasofaring.

Pada stadium awal kanker nasofaring, pengobatan dengan radioterapi tunggal dapat memberikan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun lebih dari 90%.


Untuk tumor stadium lanjut lokal, pengobatan kombinasi (terapi terpadu) merupakan pilihan terbaik.


Untuk tumor stadium lanjut lokal, radioterapi saja tidak memberikan hasil yang optimal, dengan angka kelangsungan hidup 5 tahun hanya sekitar 60%. Oleh karena itu, selain radioterapi, juga perlu ditambahkan kemoterapi untuk menjalani pengobatan secara terpadu.


Untuk kanker nasofaring stadium lanjut yang telah mengalami metastasis, pengobatan utamanya adalah terapi sistemik (pengobatan seluruh tubuh).


Kanker nasofaring stadium lanjut yang telah mengalami metastasis umumnya ditangani dengan pengobatan sistemik sebagai pendekatan utama. Saat ini, kombinasi kemoterapi dan imunoterapi menjadi pilihan yang direkomendasikan. Tentu saja, rencana pengobatan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, termasuk stadium penyakit dan situasi klinis yang berbeda-beda.


Radioterapi presisi merupakan metode pengobatan kuratif paling krusial dalam menangani kanker nasofaring. Namun, sekitar 10% hingga 20% pasien tetap mengalami kekambuhan lokal setelah menjalani radioterapi. Di antara pasien yang mengalami kekambuhan ini, mereka dapat dibagi lagi menjadi dua kelompok: yang memungkinkan dan yang tidak memungkinkan untuk dioperasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 70% termasuk dalam kategori yang tidak layak menjalani operasi. Bagi mereka, “radioterapi ulang” menjadi harapan utama dalam pengobatan.

40cab52c-2c84-484e-a120-a4ebc7ab9be7.png.jpg

(Pengobatan tumor dengan CyberKnife di Foshan: tanpa operasi, tanpa pendarahan, tanpa anestesi)


CyberKnife, dengan kemampuan luar biasa dalam mengontrol dosis dan posisi secara presisi, menggunakan teknologi canggih Radioterapi Stereotaktik Berbasis Tubuh (SBRT) untuk melakukan re-radiasi pada tumor metastasis tulang belakang yang kambuh, tumor kepala dan leher, serta tumor panggul. Pendekatan ini tidak hanya secara signifikan meningkatkan tingkat kontrol lesi lokal dan meringankan gejala pasien, tetapi juga secara drastis mengurangi risiko kerusakan pada jaringan normal di sekitarnya.


Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251