2025-02-05
Pernah makan pahitnya operasi,
Setelah didiagnosis menderita “kanker emas” — kanker prostat,
ia sama sekali tidak ingin dioperasi lagi!
ia teguh menolak untuk operasi.
Sebagai seorang pria dewasa dengan pendidikan tinggi,
Ia ingin menjaga harga diri sebagai pria dan menghindari rasa canggung dalam pergaulan,
ia dengan tegas memilih terapi radiasi CyberKnife di Foshan.
Dua tahun telah berlalu sejak pengobatan —
kini, bagaimana keadaannya...?
1. Kadar PSA Terus Naik — Ternyata Kanker Prostat!
Tuan Li (nama samaran), pria berusia 56 tahun, saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, ditemukan kadar PSA-nya mencapai 5,12 ng/ml.Atas anjuran dokter, ia menjalani pemantauan berkala untuk memantau perubahannya.

Namun tanpa disangka, dari Mei 2021 hingga Juni 2022, kadar PSA Tuan Li terus mengalami kenaikan secara perlahan. Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan berupa MRI prostat dan biopsi, ia pun didiagnosis menderita kanker prostat berisiko tinggi, dengan stadium T2b, N0, M0, dan Skor Gleason 4 + 4 = 8 (ISUP grade 4). Dokter setempat menyarankan agar Tuan Li segera menjalani tindakan operasi.
PSA, atau Prostat Spesifik Antigen, dikenal sebagai “barometer kesehatan prostat pria.” Zat ini biasanya hanya ditemukan dalam jumlah sangat kecil di dalam darah, dengan nilai normal umumnya di bawah 4 ng/mL. Namun, ketika terjadi kanker prostat, kadar PSA bisa meningkat secara signifikan—sering kali melebihi 10 ng/mL. Hal inilah yang menjadikan PSA sebagai indikator penting dalam deteksi dini kanker prostat.
2. Konsultasi dengan Dokter Han, Mencari Metode Tanpa Operasi
Menghadapi anjuran untuk operasi, Tuan Li merasa bimbang. Ia teringat kembali pada pengalamannya di Juli 2021, saat harus menjalani operasi wedge dan segmentektomi paru kiri karena kanker paru. Rasa sakit pascaoperasi dan proses pemulihan yang panjang masih membekas di benaknya. Tak heran, kali ini ia sangat berharap bisa menemukan cara pengobatan lain yang tidak melibatkan pisau bedah.

Dengan pertimbangan tersebut, Tuan Li kemudian meminta bantuan temannya dan akhirnya menemukan Prof. Han Liangfu, seorang ahli radioterapi khusus kanker prostat di Pusat Pengobatan Presisi Onkologi, Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan. Berdasarkan kondisi pribadi pasien, hasil pemeriksaan PSMA PET/CT prostat yang komprehensif, serta panduan praktik internasional terkini, Prof. Han melakukan analisis menyeluruh terhadap kondisi Tuan Li dan memberikan dua opsi pengobatan untuk dipertimbangkan oleh pasien dan keluarganya.
3.Radioterapi dan Operasi Efikasi Setara, Tapi Efek Sampingnya Berbeda
Menurut penuturan Dr. Han, berdasarkan rumus penilaian prediksi pra-operasi kanker prostat dari MSKCC (Memorial Sloan Kettering Cancer Center), hasil estimasi berdasarkan data klinis pasien menunjukkan bahwa: kemungkinan invasi ekstra-kapsular prostat mencapai 69%, kemungkinan metastasis ke kelenjar getah bening pelvis sebesar 22%, dan kemungkinan invasi vesikula seminalis sebesar 13%.
Studi ProtecT mengevaluasi efektivitas jangka panjang dari tiga pendekatan pengobatan kanker prostat, yaitu observasi aktif, operasi, dan radioterapi. Sebanyak 1.643 pasien—mayoritas berisiko rendah, sebagian berisiko menengah hingga tinggi—dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok:
· observasi aktif (dengan pemantauan PSA setiap 3 bulan di tahun pertama, lalu setiap 6–12 bulan),
· prostatektomi radikal (operasi), dan
· radioterapi radikal (74Gy dalam 37 fraksi) yang dikombinasikan dengan terapi deprivasi androgen (ADT) selama 3–6 bulan, baik sebagai terapi neoadjuvan maupun bersamaan. Setelah 10 tahun masa tindak lanjut, tingkat kelangsungan hidup spesifik terhadap kanker prostat mencapai 98,8% pada kelompok observasi, 99% pada kelompok operasi, dan 99,6% pada kelompok radioterapi. Kasus metastasis ditemukan sebanyak 33 pasien pada kelompok observasi, 13 pasien pada kelompok operasi, dan 16 pasien pada kelompok radioterapi. Dari sisi efek samping, kelompok operasi menunjukkan penurunan fungsi seksual dan fungsi kontinensia urin yang lebih signifikan, sedangkan kelompok radioterapi lebih sering mengalami keluhan pada saluran pencernaan, terutama dalam enam bulan pertama pascaterapi, yang umumnya membaik seiring waktu.

Sebagai kesimpulan, pasien dapat memilih antara prostatektomi radikal dengan diseksi kelenjar getah bening pelvis, dengan atau tanpa radioterapi pascaoperasi, atau menjalani radioterapi eksternal (EBRT) yang dikombinasikan dengan terapi deprivasi androgen (ADT) jangka panjang selama 18–24 bulan. Baik pembedahan maupun radioterapi menunjukkan efektivitas yang setara, namun masing-masing memiliki profil efek samping yang berbeda.
4. Setelah 5 siklus radioterapi, kadar PSA menurun dan tumor menghilang.
Dokter Han menjelakan secara rinci kepada pasien mengenai rincian pengobatan, hal-hal yang perlu diperhatikan, serta kemungkinan efek samping yang dapat muncul. Setelah mempertimbangkannya hanya selama satu hari, pasien dan keluarga memutuskan untuk memilih opsi tanpa pembedahan, yakni terapi radiasi stereotaktik berbasis linear accelerator (SBRT) yang dikombinasikan dengan terapi deprivasi androgen (ADT) jangka panjang.
Mengingat tidak ditemukan adanya metastasis ke kelenjar getah bening pelvis, Dokter Han menetapkan area target radioterapi terbatas pada prostat dan sebagian vesikula seminalis, dengan skema pembagian dosis sebesar 7,25 Gy sebanyak 5 kali sesi pengobatan.

Radiasi difokuskan hanya pada area prostat dan sebagian vesikula seminalis, sehingga jaringan sehat di sekitarnya tetap terlindungi.
Setelah menyelesaikan 5 sesi radioterapi, pasien tidak merasakan ketidaknyamanan apa pun; nilai PSA telah kembali ke tingkat normal sejak Oktober 2022.
Selama dua tahun setelah menjalani pengobatan, pasien melanjutkan terapi ADT dan rutin melakukan pemeriksaan PSA. Hasilnya menunjukkan kadar PSA yang stabil mendekati nol, menandakan ancaman kanker prostat hampir sepenuhnya hilang. Efektivitas pengobatan terbukti nyata, dan kualitas hidup pasien tetap terjaga dengan sangat baik.

Hasil ini membuat Tuan Li dan keluarganya sangat puas. Berkat radioterapi presisi, ia terhindar dari risiko komplikasi dan masa pemulihan yang sering menyertai operasi. Tanpa perlu menjalani pembedahan, kombinasi radioterapi dan pengobatan telah memberikan hasil yang setara dengan operasi.
Yang lebih penting, pengobatan ini tidak merusak jaringan sehat, mampu mempertahankan martabat sebagai pria, serta tidak mengganggu kehidupan sosial sehari-hari.