2025-07-07
“Sekarang kondisi mental saya jauh lebih baik, terima kasih kepada tim medis Pusat Onkologi RS Chancheng Foshan!” Pada 21 April, bertepatan dengan Pekan Nasional Pencegahan dan Pengobatan Kanker, pasien bernama panggilan Suster Shan (nama samaran), 60 tahun, membagikan kisah perjuangannya melawan kanker.
Dari ditemukannya penyakit secara tak sengaja, hingga melewati berbagai tantangan seperti operasi, kemoterapi, radioterapi, dan terapi hormon, pasien berhasil mengalahkan penyakitnya berkat pendampingan penuh dari tim medis yang memberikan perawatan komprehensif sepanjang siklus pengobatan. Ia bahkan berhasil mengalami transformasi luar biasa dari seorang penerima bantuan menjadi sosok yang kini membantu orang lain, dan dengan pengalaman pribadinya, ia menyebarkan semangat juang melawan kanker kepada sesama.
Pada awal tahun 2023, Suster Shan sempat menunda pemeriksaan kesehatan tahunan rutinnya karena pandemi. Suatu ketika, tanpa sengaja, suaminya merasakan ada benjolan keras di payudaranya. Namun, hal itu sempat disangka hanya sebagai pembesaran jaringan biasa, sehingga tidak langsung diperiksakan ke dokter. Beberapa bulan kemudian, benjolan tersebut diam-diam membesar, hingga akhirnya ia didiagnosis menderita kanker payudara invasif stadium IIA.
Diagnosis yang datang secara tiba-tiba ini bagai palu godam yang menghantamnya, membuatnya jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Namun hanya dalam waktu 24 jam, ia dengan tegas memilih untuk menghadapi kenyataan pahit tersebut. Ia mulai dengan penuh semangat mencari informasi dan secara aktif mencari cara pengobatan yang tepat.

"Operasi hanyalah awal dari perjalanan panjang melawan kanker. Kanker payudara adalah perjuangan jangka panjang yang harus dihadapi seumur hidup," ungkap Suster Shan dengan penuh perasaan.
Setelah menjalani operasi payudara, ia harus berhadapan dengan limfedema (pembengkakan kelenjar getah bening) yang membuatnya sangat tersiksa. "Bahkan menyisir rambut saja jadi hal yang sangat sulit," ujarnya. Rasa nyeri dan bengkak di tangannya begitu menyiksa, seolah-olah sedang mengenakan "sarung tangan besi berat" yang tak bisa dilepaskan.
Atas rekomendasi seorang teman, ia berpindah-pindah hingga ke tiga rumah sakit, dan akhirnya memilih menjalani pengobatan lanjutan di Pusat Onkologi Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan (disebut "Foshan ChanYi").

Tim yang dipimpin oleh Direktur Han Liangfu dari Pusat Onkologi Foshan ChanYi merancang secara khusus untuk Suster Shan sebuah paket pengobatan penuh siklus: kemoterapi TC sebanyak 4 siklus + 19 kali radioterapi + terapi endokrin selama 5–10 tahun. Tim multidisiplin yang terdiri dari ahli bedah, kemoterapi, radioterapi, gizi, dan rehabilitasi bekerja sama secara erat, membentuk sebuah "tim proyek khusus" profesional yang selalu siaga layaknya pasukan elit, siap merespons setiap kebutuhan pasien secara real-time.
"Ucapan dokter, 'jangan takut,' lebih menenangkan daripada seribu kata penghiburan," ucap Suster Shan, matanya penuh rasa syukur saat mengingat momen-momen selama pengobatan. Setelah kemoterapi, ia beruntung tidak mengalami muntah; selama radioterapi pun, ia tak perlu mengalami rasa malu karena harus membuka pakaian. Tim medis juga membentuk grup online yang siaga 24 jam, membantu menjawab segala kebingungannya dan meredakan kecemasan berlebihan yang ia alami selama proses penyembuhan.
Seiring dengan pemulihan fisiknya dan rasa terima kasih yang mendalam kepada tim medis, Suster Shan pun dengan yakin bergabung dalam “Yayasan Cahaya Kehidupan”, menjadi seorang relawan penuh kasih. Melalui pengalaman pribadinya, ia memberikan semangat kepada setiap pasien: "Tumor itu tidak menakutkan. Asalkan kita menemukan rumah sakit dan tim profesional yang tepat, kita pasti bisa mendapatkan kehidupan baru."
Kini, ia rutin menjalani pemeriksaan lanjutan, menjaga pola hidup yang teratur, dan tampil dengan semangat yang bugar—hingga orang-orang di sekitarnya pun takjub dan berkata:
"Sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang pernah sakit berat."

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum dialami oleh perempuan. Bahkan setelah menjalani operasi, masih ada kemungkinan kambuh di area payudara, dinding dada, atau wilayah drainase kelenjar getah bening. Oleh karena itu, terapi radiasi pasca operasi menjadi sangat penting bagi pasien kanker payudara.
Han Liangfu, Kepala Pakar Medis di Pusat Onkologi Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan, menjelaskan bahwa pusat onkologi ini memiliki sejumlah teknologi canggih kelas dunia, termasuk teknologi DIBH (Deep Inspiration Breath Hold), radioterapi berbasis panduan citra, serta radioterapi hipofraksinasi dengan dosis besar. Berkat teknologi ini, rangkaian terapi radiasi yang biasanya memerlukan 30 kali kunjungan kini dapat dipersingkat menjadi hanya 19 kali, yang tidak hanya meningkatkan efisiensi pengobatan, tetapi juga secara signifikan mengurangi risiko kerusakan pada jantung dan paru-paru.


Direktur Pusat Onkologi Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan, Yang Jun, menambahkan bahwa teknologi radioterapi presisi mampu secara signifikan menurunkan angka kekambuhan — “dari 30% menjadi hanya 5%”. Selain itu, teknologi modern kini terus berkembang ke arah “jumlah sesi yang lebih sedikit dan kerusakan yang lebih rendah”, memberikan secercah harapan baru bagi pasien yang tidak bisa menjalani operasi atau sudah berada pada stadium lanjut.
“Kami juga menjadi pelopor dalam teknologi SCART (Stereotactic Central Ablative Radiotherapy), yakni radioterapi ablasi terarah secara tiga dimensi yang menargetkan pusat tumor dengan presisi hingga sub-milimeter. Hanya dengan 3 kali terapi (masing-masing 15 menit), tumor dapat menyusut dengan cepat dan rasa nyeri pasien berkurang secara signifikan,” jelas Yang Jun. Teknologi ini, selain untuk tumor payudara, juga dapat digunakan pada tumor padat berukuran besar seperti di kepala dan leher, paru-paru, hati, pankreas, kelenjar getah bening retroperitoneal, dan sangat efektif terutama terhadap sarkoma yang umumnya tidak sensitif terhadap radiasi.

Ahli medis utama di Pusat Onkologi Rumah Sakit Fosun Chancheng Foshan, Han Liangfu, menekankan bahwa deteksi dini, pengobatan dini, serta manajemen menyeluruh adalah kunci utama dalam melawan kanker. Wanita berusia di atas 40 tahun disarankan untuk melakukan pemeriksaan USG payudara atau mammografi setiap tahun. Jika hasil USG menunjukkan kategori BIRADS tingkat 4 atau lebih, maka harus segera berkonsultasi ke dokter spesialis. Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, dan berhati-hati dalam penggunaan terapi pengganti hormon. Wanita yang berada dalam masa pre-menopause perlu lebih waspada terhadap risiko kanker payudara.