Apa itu Kanker Paru?

Cui Nianji

Jabatan:
Pakar Terkemuka di Pusat Diagnosis dan Perawatan Presisi Onkologi Medis Foshan Chancheng
Gelar:
Kepala Dokter

Konsultasi Gratis

·        Apa itu Kanker Paru?

Kanker paru, juga disebut karsinoma bronkopulmoner primer, adalah jenis tumor ganas paru-paru yang paling umum, berasal dari epitel mukosa trakea, bronkus, atau kelenjar. Berdasarkan karakteristik histopatologis, kanker paru terbagi menjadi dua tipe utama: kanker paru sel non-kecil (non-small cell lung carcinoma, NSCLC) termasuk adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa, serta kanker paru sel kecil (small cell lung carcinoma, SCLC). Kanker paru bukan penyakit menular, namun memiliki kecenderungan familial yang jelas dan kerentanan genetik. Faktor resiko yang umum meliputi: Merokok, paparan zat berbahaya (karsinogenik) di lingkungan kerja, serta polusi udara merupakan penyebab yang umum. Secara global, kanker paru memiliki angka kejadian dan kematian yang sangat tinggi dan terus menunjukkan tren peningkatan. Pada pria, kanker paru menempati peringkat pertama dalam hal angka kejadian dan kematian akibat kanker.

 

Gejala klinis kanker paru sangat berkaitan dengan ukuran dan jenis tumor, stadium perkembangan, lokasi, komplikasi, serta penyebarannya (metastasis). Gejala yang umum meliputi batuk, dahak berdarah (hemoptisis), sesak napas atau bunyi mengi (wheezing), serta nyeri dada. Pada tahap awal, penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala yang jelas atau tidak khas, dan sebagian pasien baru terdeteksi secara tidak sengaja saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.


Pengobatan kanker paru umumnya mencakup pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi. Prognosis sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien, termasuk jenis tumor, stadium penyakit, usia, jenis kelamin, dan faktor lainnya. Namun, secara umum, tingkat harapan hidup lima tahun (five year survival rate) untuk kanker paru masih tergolong rendah. Upaya pencegahan dan pengendalian yang penting meliputi berhenti merokok, menghindari paparan zat berbahaya di lingkungan kerja dan sekitarnya, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

 

Dengan perkembangan teknologi biomedis dan penelitian yang semakin mendalam, pemahaman tentang penyebab kanker paru serta metode diagnosis dan pengobatannya telah mengalami kemajuan besar. Misalnya, pemeriksaan genetik yang mendeteksi mutasi gen EGFR (epidermal growth factor receptor mutation), serta fusi gen ALK dan ROS1, sangat bermanfaat untuk terapi target yang dapat dipersonalisasi. Upaya skrining dini terhadap kanker paru, seperti pengembangan dan penerapan CT spiral dosis rendah (low-dose spiral computed tomography, LDCT), memiliki peran penting dalam meningkatkan angka deteksi  dini serta kualitas hidup pasien.


168a4789-201c-41f5-9eb8-d90a56a9902c.png.jpg


·      Tanda dan Gejala

·       Gejala Awal

Gejala paling umum pada stadium awal kanker paru adalah batuk, yang sering muncul sebagai batuk kering (non-productive cough) atau batuk dengan sedikit dahak bersifat paroksismal (batuk menyerang secara tiba-tiba dan berulang) dan iritatif.

 

Jika pada tahap awal kanker paru sudah menyerang jaringan atau organ di sekitarnya, biasanya akan muncul nyeri dada yang tumpul atau tidak teratur, dan nyeri tersebut akan terasa semakin kuat saat batuk.


Selain itu, beberapa pasien kanker paru stadium awal juga dapat mengalami gejala seperti dahak berdarah atau batuk darah (hemoptisis), sesak napas, dan suara serak. Gejala-gejala ini perlu diwaspadai.

·      Gejala yang Disebabkan oleh Pertumbuhan Lokal Tumor Primer

 Batuk

Merupakan gejala awal yang paling umum, dengan sekitar 50% pasien kanker paru mengalami batuk sebagai keluhan pertama. Karena lokasi, pola pertumbuhan, dan kecepatan tumor berbeda-beda, gejala batuk juga bervariasi — umumnya berupa batuk kering paroksismal (berulang) tanpa dahak atau hanya sedikit dahak, disertai rasa gatal atau iritasi.
     Ketika tumor menyumbat saluran napas, batuk akan memburuk menjadi batuk terus-menerus dengan suara metalik bernada tinggi (persistent high-pitched metallic cough) atau batuk tersedak (choking cough), dan biasanya tidak merespons terhadap obat batuk biasa.

 

Dahak Berdarah atau Batuk Darah

Merupakan gejala kanker paru yang paling khas dan memiliki nilai diagnostik tinggi, terutama pada kanker paru tipe sentral. Sekitar 25%–40% pasien kanker paru mengalami batuk darah sebagai gejala awal. Umumnya muncul sebagai dahak berdarah yang berulang dalam jumlah kecil, terus-menerus, dan kadang disertai batuk darah dalam jumlah lebih banyak.

 

Sesak Napas

Sekitar 10% pasien kanker paru mengalami sesak napas sebagai gejala awal. Gejalanya berupa napas pendek, napas tersengal-sengal, dan kadang disertai bunyi. Saat diperiksa dengan stetoskop, dapat terdengar suara yang terbatas pada satu sisi atau area tertentu paru.

 

Demam

Tumor yang menyumbat saluran napas dapat menyebabkan pneumonia obstruktif, atelektasis (paru-paru mengempis), atau nekrosis jaringan tumor, yang kemudian menimbulkan gejala demam.

 

·      Gejala Akibat Invasi Tumor ke Organ atau Jaringan Sekitar

Nyeri Dada

Sekitar 25% pasien mengalami nyeri dada sebagai gejala awal. Biasanya ditandai dengan rasa nyeri samar atau tumpul yang tidak teratur di area dada, dan dapat memburuk saat batuk. Jika nyeri menjadi semakin kuat, menetap, dan sulit dikendalikan dengan obat, hal ini dapat mengindikasikan bahwa tumor telah menyebar luas ke jaringan dinding dada. Apabila nyeri menetap juga menjalar ke bahu, dada bagian atas, atau punggung, kemungkinan besar tumor telah menyerang jaringan di luar dinding dada.

 

Suara Serak

Sekitar 5%–18% pasien mengalami gejala ini sebagai keluhan utama. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh tumor yang menekan secara langsung, menyebar ke mediastinum, atau akibat pembesaran kelenjar getah bening yang menekan saraf laringeus rekuren (lebih sering sisi kiri), sehingga menyebabkan kelumpuhan pita suara.

 

Efusi Pleura (Cairan di Rongga Dada)

Sekitar 10% pasien mengalami efusi pleura (penumpukan cairan di rongga dada) dengan derajat yang bervariasi. Hal ini menunjukkan bahwa tumor telah menyebar dan menghambat aliran getah bening pada pleura atau paru-paru.

 

Sindrom Obstruksi Vena Kava Superior

Tumor yang secara langsung menyerang mediastinum atau kelenjar getah bening yang membesar akibat metastasis dapat menekan vena kava superior, sehingga menghambat aliran balik darah. Gejala utamanya meliputi pembengkakan pada lengan atas, leher, dan wajah, serta pelebaran pembuluh darah di dinding dada. Pada kasus yang parah, dapat terjadi edema otak yang menyebabkan sakit kepala, mengantuk, dan penglihatan kabur.

 

Sindrom Horner

Sindrom Horner terjadi ketika kanker di puncak paru (tumor Pancoast) menekan saraf simpatis di leher, sehingga menimbulkan gejala seperti kelopak mata sisi yang terkena menjadi turun (ptosis), pupil mengecil (miosis), bola mata tampak masuk ke dalam (enoftalmus), penurunan atau hilangnya keringat di dahi, dada, dan lengan sisi yang sama, serta sensasi tidak normal (parestesia) pada area tersebut.


Lainnya

Sebagian kecil pasien menunjukkan gejala awal berupa kesulitan menelan atau efusi perikardial (penumpukan cairan di selaput jantung), yang mengindikasikan bahwa tumor telah menyerang esofagus dan perikardium.

·   Gejala yang Disebabkan oleh Metastasis Jarak Jauh Tumor

Kanker paru paling sering bermetastasis ke sistem saraf pusat dan jaringan tulang, dan gejalanya sangat bergantung pada fungsi organ di lokasi metastasis tersebut.

Gejala Sistem Saraf Pusat

Angka kejadian metastasis ke sistem saraf pusat sekitar 10%, dan umumnya menimbulkan gejala akibat peningkatan tekanan intrakranial, seperti sakit kepala, mual, dan muntah. Gejala yang lebih jarang meliputi kejang (epilepsi), kelumpuhan satu sisi tubuh (hemiparalisis), gangguan bicara (afasia), penurunan kesadaran (sinkop), serta gangguan koordinasi seperti tubuh tidak seimbang saat berdiri, berjalan goyah, dan gerakan bola mata yang tidak normal (nistagmus)

 

Gejala pada Tulang

Metastasis kanker paru paling sering terjadi pada tulang panggul, tulang belakang, dan tulang rusuk, yang dapat menyebabkan nyeri tulang dan patah tulang patologis.

Selain itu, kanker paru juga dapat bermetastasis ke berbagai organ lain seperti kelenjar adrenal, hati, pankreas, saluran pencernaan, ginjal, dan kelenjar getah bening, yang dapat menimbulkan gejala seperti penyakit kuning/ ikterus (jaundice), tinja berwarna hitam akibat perdarahan saluran cerna bagian atas (melena), nyeri perut, darah dalam urin (hematuria), serta pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati).

 

·      Gejala Ekstra paru

Kanker paru dapat menghasilkan hormon, antigen, enzim, dan zat lain yang memiliki aktivitas biologis spesifik. Oleh karena itu, sekitar 10%–20% pasien kanker paru—terutama yang menderita kanker paru sel kecil (small cell lung carcinoma, SCLC) dapat mengalami satu atau lebih gejala ektopik (paraneoplastic syndrome).

 

Osteoartropati Hipertrofik

Secara klinis, kondisi ini cukup sering dijumpai, dengan gejala utama berupa jari tangan atau kaki berbentuk tabuh (clubbing), serta pembesaran pada tulang dan sendi. Angka kejadian diperkirakan sekitar 29% dari pasien kanker paru, terutama pada kanker paru non-sel kecil. Setelah tumor diangkat, gejala biasanya mereda atau menghilang, namun dapat muncul kembali jika tumor kambuh.



Sindrom Sekresi Ektopik Hormon Terkait Tumor

Sekitar 10% pasien kanker paru mengalami gejala ini sebagai tanda awal. Gejala yang umum meliputi nyeri dan kelemahan pada tungkai, ketidakseimbangan saat berjalan, pembesaran payudara pada pria, ereksi abnormal, mual, muntah, nyeri perut, detak jantung cepat, sesak napas seperti asma, dan kulit memerah atau terasa panas.

·   Lainnya

Sistem Kardiovaskular

Beberapa bulan sebelum kanker paru terdiagnosis, pasien dapat mengalami gejala gejala lokal pada ekstremitas seperti kemerahan, bengkak, dan nyeri pada anggota tubuh yang terkena, serta tromboflebitis superfisial yang tampak sebagai vena yang menonjol berbentuk seperti tali, jaring, atau nodul. Selain itu, dapat muncul gejala endokarditis nonbakteri seperti bising jantung (murmur), emboli arteri, atau gejala gangguan jantung lainnya.

 

Sistem Hematologi (Darah)

Dapat muncul gejala seperti pucat, lemas, bintik perdarahan pada kulit, serta peningkatan jumlah sel darah merah. Kondisi ini mencerminkan adanya anemia kronis, purpura (perdarahan di bawah kulit), atau polisitemia


·      Gejala Penyerta

Sekitar 1% pasien kanker paru dapat mengalami manifestasi pada kulit, seperti akantosis nigrikans (kulit menghitam dan menebal), dermatomiositis, skleroderma, serta hiperkeratosis kutaneus (penebalan kulit berlebihan).



Kisah pasien kanker paru:

Penderita Kanker Paru Stadium 3 Bisa Hidup Selama 7 Tahun Lagi Dengan Cara Ini!


Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 81119968887
+62 81128741696