Kisah Cinta yang Menantang Waktu: Dari Diagnosis Kanker hingga Pernikahan dan Pembekuan Embrio hanya dalam 12 Hari

2026-03-09


Terkadang, kehidupan menuliskan kisah yang jauh melampaui imajinasi fiksi. Baru-baru ini, sebuah cerita luar biasa tentang cinta, kanker, dan harapan terungkap di Shenzhen Hengsheng Hospital Reproductive Medicine Center. Pada akhir tahun 2025, Ms. Huang (40 tahun) didiagnosis menderita limfoma di sebuah rumah sakit tersier. Menghadapi kemoterapi yang berpotensi merusak kesuburannya secara permanen, ia dan kekasihnya yang telah bersamanya selama sepuluh tahun mengambil keputusan tanpa ragu: mereka akan berlomba dengan waktu. Dalam 12 hari—proses yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan—mereka mendaftarkan pernikahan, memulai stimulasi ovarium, dan berhasil mengkriopreservasi dua embrio. Ini bukan sekadar kisah cinta yang teguh, tetapi juga bukti bagaimana kedokteran modern, berpadu dengan tekad pribadi, dapat menciptakan keajaiban: melawan penyakit yang mengancam jiwa sekaligus mempertahankan harapan untuk menjadi orang tua.

  1.      Keputusan “Tidak Konvensional” Pasca Diagnosis Kanker

Semua bermula dari benjolan kecil yang ditemukan secara tidak sengaja di lehernya.

Pada Oktober tahun lalu, Ms. Huang didiagnosis dengan limfoma non-Hodgkin stadium II—suatu keganasan sistem limfatik dan hematopoietik. Meskipun dokter menjelaskan bahwa angka kelangsungan hidup lima tahun melebihi 70%, 4–6 siklus kemoterapi yang akan dijalaninya berisiko besar menghilangkan peluangnya untuk menjadi ibu secara permanen.

“Jika kami ingin memiliki anak, apakah masih ada waktu?” tanyanya di ruang konsultasi, pertanyaan yang bahkan terasa lebih menyayat daripada diagnosis kanker itu sendiri. Ahli hematologi segera menyadari urgensinya, sebelum kemoterapi dimulai, hanya tersedia “jendela emas” sekitar 10–20 hari yang merupakan satu-satunya kesempatan untuk mempertahankan kesuburan. Kolaborasi lintas rumah sakit pun segera diinisiasi. Konsultasi multidisiplin daring dilakukan bersama Dr. Zhang Chahui dari tim Chief Physician Deng Weifen di Reproductive Medicine Center. Setelah evaluasi awal, Dr. Zhang menilai bahwa Ms. Huang memenuhi syarat untuk kriopreservasi embrio atau oosit dan menyarankan agar ia segera menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

1.     Proses 12 Hari Melawan Waktu: Kriopreservasi Dua Embrio

Waktu menjadi faktor penentu.

Pada sore hari setelah keluar dari departemen hematologi, Ms. Huang dan pasangannya langsung menuju klinik Chief Physician Deng Weifen. Evaluasi lanjutan memberikan kabar campuran: cadangan ovarium Ms. Huang menurun signifikan—kadar AMH hanya 0,59 ng/ml (nilai normal umumnya 2–6,8 ng/ml). Namun, kunjungannya bertepatan dengan hari pertama siklus menstruasi, sehingga stimulasi ovarium dapat dimulai segera.

1f3a0f4c-0a1c-453f-bf5d-693c0a9e7d4b.png.jpg

Potret Dokter Deng Weifen dan tim sedang mendiskusikan rencana perawatan

“Mulai sekarang juga. Kita gunakan protokol stimulasi ringan dengan dampak minimal dan durasi singkat. Kita harus mendahului jadwal kemoterapi,” tegas Dr. Deng.

Di saat yang sama, pasangan tersebut mempercepat komitmen mereka dengan mendaftarkan pernikahan secara resmi agar dapat melakukan pembekuan embrio secara legal. “Saya tidak ingin penyakit ini merampas haknya untuk menjadi seorang ayah,” ujar Ms. Huang dengan tegas. “Kesehatannya adalah yang utama. Tapi selama masih ada harapan, kita akan memperjuangkannya bersama,” jawab suaminya memberikan kehangatan bahwa mereka akan menghadapi badai ini Bersama sama.

Dengan koordinasi tim yang efisien, seluruh rangkaian prosedur—meliputi stimulasi ovarium, pemantauan perkembangan folikel, hingga pengambilan sel telur—dapat dilaksanakan secara optimal dan terarah. Empat oosit berhasil diperoleh, dan dari jumlah tersebut dua embrio berkualitas tinggi berhasil dikembangkan di laboratorium embriologi.

494ffe85-1411-46f5-9105-696fdc797643.png.jpg

Embrio yang sedang dikultur dalam inkubator time-lapse.

Sejak dimulainya preservasi fertilitas hingga selesainya proses kriopreservasi embrio, seluruh rangkaian tindakan hanya memerlukan waktu 12 hari. Dalam kurun waktu tersebut, jadwal kemoterapi berhasil didahului dan dua “benih kehidupan” yang sangat berharga untuk mewujudkan impian menjadi orang tua di masa depan berhasil diamankan. Keberhasilan dalam “estafet harapan” ini tidak akan tercapai tanpa dukungan laboratorium embriologi dengan fasilitas dan teknologi mutakhir.

Laboratorium embriologi di Shenzhen Hengsheng Hospital Reproductive Medicine Center dilengkapi dengan lingkungan pemurnian laminar flow Kelas 1.000 berstandar internasional serta berbagai peralatan mutakhir. Fasilitas ini menerapkan teknologi vitrification yang mampu mempertahankan viabilitas sel secara efisien, sehingga setiap “harapan” yang dipreservasi tersimpan dalam kondisi yang optimal dan stabil.

2.     Optimalisasi “Jendela Emas”: Strategi Preservasi Fertilitas Proaktif

Merefleksikan proses intervensi yang dilakukan dalam waktu terbatas tersebut, Dr. Deng Weifen menekankan pentingnya peningkatan kesadaran mengenai preservasi fertilitas. Ia menyampaikan bahwa banyak individu usia produktif menunda perencanaan kehamilan demi pengembangan karier, sementara faktor usia—serta penyakit seperti kanker—secara bertahap dapat menurunkan fungsi reproduksi. Pada pasien yang akan menjalani kemoterapi atau radioterapi, “jendela emas” untuk mempertahankan fertilitas bersifat sangat terbatas, sehingga keputusan klinis perlu diambil sebelum terapi dimulai.

Ia merekomendasikan agar kelompok berikut secara aktif mempertimbangkan mempertahankan kesuburan :

Pasien dengan tumor ganas yang akan menjalani kemoterapi atau radioterapi;

Individu yang memerlukan transplantasi sel punca hematopoietik atau menderita

penyakit autoimun berat;

Individu dengan risiko insufisiensi ovarium prematur (misalnya endometriosis ovarium 

berat).

“Tujuan onkologi modern bukan semata-mata menyembuhkan penyakit, tetapi juga memungkinkan pasien menjalani kehidupan dengan kualitas yang baik. Mempertahankan kesuburan berarti menjaga harapan mereka untuk membangun keluarga yang utuh di masa depan,” ujar Dr. Deng. Ia menjelaskan bahwa Reproductive Medicine Center di Shenzhen Hengsheng Hospital berkomitmen menyediakan layanan komprehensif dalam evaluasi dan mempertahankan kesuburan. Di bawah arahan Bao’an District Medical Association, pusat tersebut memprakarsai pembentukan Bao’an District Medical Association Reproductive Health Professional Committee dan bertindak sebagai institusi ketua. Selain itu, pusat ini membangun mekanisme konsultasi kolaboratif yang erat dengan departemen onkologi dan hematologi, baik di dalam maupun di luar rumah sakit, guna secara proaktif memberikan kesempatan kepada pasien yang memenuhi syarat untuk “menyimpan benih kehidupan” mereka. Lebih lanjut, pusat ini juga mendirikan Klinik Khusus Evaluasi dan Preservasi Fertilitas, yang menyediakan layanan kriopreservasi embrio bagi pasangan yang memenuhi kriteria, serta kriopreservasi oosit atau sperma bagi individu yang belum menikah.

49f9bf5d-651f-4120-8073-d64f06f3705d.png.png

Tangki nitrogen cair untuk kriopreservasi oosit, sperma, atau embrio.

Saat ini, Ms. Huang telah memulai kemoterapi limfoma sesuai dengan protokol yang telah direncanakan. Meskipun tubuhnya mengalami berbagai ketidaknyamanan akibat terapi, secara psikologis ia merasakan ketenangan dan kekuatan baru. Ia menyatakan, “Kami telah melakukan segala upaya untuk mempersiapkan masa depan. Kini kami harus sepenuhnya fokus pada pengobatan—untuk diri kami, dan untuk hari ketika kami dapat menyambut anak kami ke dunia.”

Kisah pasangan ini bermula dalam bayang-bayang penyakit, namun melalui dukungan emosional, keberanian, dan intervensi kedokteran modern, perjalanan tersebut berkembang menjadi kisah yang sarat harapan. Kasus ini menunjukkan bahwa keteguhan komitmen dan kemajuan medis dapat bersama-sama membuka kemungkinan kehidupan di tengah tantangan penyakit yang serius.








Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251