Apa itu Kanker Nasofaring?

Cui Nianji

Jabatan:
Pakar Terkemuka di Pusat Diagnosis dan Perawatan Presisi Onkologi Medis Foshan Chancheng
Gelar:
Kepala Dokter

Konsultasi Gratis


Kanker Nasofaring (Nasopharyngeal Carcinoma/NPC) adalah kanker ganas yang berasal dari sel epitel pada selaput lendir di area nasofaring — yaitu bagian belakang rongga hidung yang terletak di atas tenggorokan. Kanker ini paling sering muncul di bagian atas dan samping nasofaring, terutama pada area yang disebut fossa Rosenmüller. Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi virus Epstein-Barr (EBV), faktor keturunan, hingga pengaruh lingkungan. Kebiasaan tidak sehat seperti merokok berlebihan dan sering mengonsumsi makanan yang diawetkan (seperti makanan asin atau diasap) juga dapat meningkatkan risiko. Pembesaran kelenjar getah bening di leher merupakan gejala awal yang paling umum. Penyakit ini lebih banyak ditemukan di wilayah Tiongkok selatan dan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.


e71721ce-4caf-4a16-92a4-281ba7509350.png.png


Bagaimana gejala klinis kanker nasofaring?


1.Darah pada ingus atau mimisan

Jika tumor terletak di bagian atas dan belakang nasofaring, gejala yang muncul bisa berupa darah pada ingus. Saat seseorang menghirup balik lendir dari hidung atau tenggorokan, lendir tersebut bisa bercampur darah (sering kali terlihat seperti "dahak berdarah"). Pada kasus yang lebih parah, bisa terjadi mimisan.


2.Gejala pada telinga

Jika tumor terletak di fossa Rosenmüller atau di sekitar muara tuba eustachius, maka karena infiltrasi atau tekanan dari tumor yang menyebabkan saluran ini tersumbat, pasien dapat mengalami gejala dan tanda-tanda otitis media efusi, seperti telinga berdenging (tinnitus) dan penurunan pendengaran.


3.Gejala pada hidung

Kanker primer yang menyebar ke area koana (bagian belakang rongga hidung) dapat menyebabkan sumbatan. Tumor yang tumbuh di dinding depan bagian atas nasofaring cenderung lebih mudah menimbulkan hidung tersumbat. Sekitar 15,9% pasien mengalami hidung tersumbat sebagai gejala awal, dan saat diagnosis ditegakkan, angka ini meningkat menjadi 48%.


4.Sakit kepala merupakan gejala yang umum. Secara klinis, biasanya muncul sebagai nyeri terus-menerus di satu sisi kepala, dengan lokasi yang paling sering di daerah pelipis atau bagian atas kepala.


5.Gejala pada mata

Keterlibatan rongga mata atau saraf yang berkaitan dengan bola mata oleh kanker nasofaring menandakan stadium lanjut. Kondisi ini sering menimbulkan berbagai gejala dan tanda, seperti gangguan penglihatan (hingga kebutaan), gangguan pada lapangan pandang, penglihatan ganda (diplopia), mata menonjol (proptosis), keterbatasan pergerakan bola mata, serta keratitis akibat kelumpuhan saraf (keratitis paralitik). Pada pemeriksaan fundus mata, dapat ditemukan atrofi atau pembengkakan saraf optik.


6.Gejala akibat kerusakan saraf otak


Dalam proses penyebarannya ke jaringan sekitar, kanker nasofaring paling sering mengenai saraf trigeminus (saraf ke lima), saraf abdusen (saraf ke enam), saraf glosofaringeus (saraf ke sembilan), dan saraf hipoglosus (saraf keduabelas). Sementara itu, saraf olfaktorius (penciuman), saraf fasialis (wajah), dan saraf pendengaran jarang terkena.


7.Pembesaran kelenjar getah bening di leher umumnya tidak nyeri, terasa keras saat disentuh, masih bisa digerakkan pada tahap awal, namun dapat menjadi melekat pada kulit atau jaringan sekitarnya di tahap lanjut sehingga tidak dapat digerakkan (terfiksasi).


8.Pada beberapa kasus, pasien datang berobat dengan keluhan utama berupa metastasis jauh.



Bagaimana prosedur diagnosis rutin untuk kanker nasofaring?


47c50c3b-7afe-4b4c-93f4-3ebe8c523903.png.png


1.Pemeriksaan nasofaring dengan cermin tidak langsung. Jika tampak benjolan atau pertumbuhan baru di bagian atap nasofaring atau di fossa Rosenmüller, maka perlu dicurigai adanya kanker nasofaring dan dilanjutkan dengan pemeriksaan lebih lanjut.


2.Pemeriksaan antibodi EB virus dalam darah. Kanker nasofaring memiliki kaitan erat dengan infeksi virus Epstein-Barr (EBV). Di Tiongkok, lebih dari 95% pasien kanker nasofaring terdeteksi positif terhadap infeksi EBV. Karena itu, pemeriksaan antibodi EBV dalam darah dapat dimanfaatkan sebagai metode skrining awal. Lebih dari 90% penderita kanker nasofaring menunjukkan hasil positif terhadap antibodi VCA-IgA dan EA-IgA, sementara lebih dari 90% individu sehat menunjukkan hasil negatif pada kedua indikator tersebut.


3.Pemeriksaan MRI nasofaring. Karena letak nasofaring yang tersembunyi, pemeriksaan fisik biasa terkadang tidak cukup untuk mendeteksi adanya kelainan. Pemeriksaan MRI dapat memberikan gambaran detail mengenai rongga nasofaring dan jaringan di sekitarnya, sehingga membantu dalam mendeteksi keberadaan tumor.



4.Pemeriksaan dengan nasofaringoskop serat optik dan biopsi jaringan. Nasofaringoskop serat optik memungkinkan pemeriksaan menyeluruh dan detail pada permukaan mukosa nasofaring. Jika ditemukan lesi yang mencurigakan, dokter dapat langsung mengambil sampel jaringan menggunakan alat penjepit kecil. Sampel tersebut kemudian diperiksa secara histopatologis di bawah mikroskop untuk memastikan adanya kanker nasofaring.



Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 81119968887
+62 81128741696