Kanker esofagus sering menyerupai penyakit ringan seperti radang tenggorokan atau gangguan pencernaan biasa. Karena itu, jangan mengabaikan gejala yang terus-menerus dengan alasan “makan terlalu cepat” atau “sedang flu”.. Jika Anda mengalami salah satu gejala berikut selama lebih dari dua minggu terutama jika memiliki riwayat merokok, konsumsi alkohol jangka panjang, sering makan atau minum dalam keadaan sangat panas, memiliki Barrett esofagus, atau riwayat keluarga kanker esofagus segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis.
| Gejala | Tanda yang Perlu Diwaspadai |
|---|---|
| Kesulitan menelan yang semakin memberat | Awalnya sulit menelan makanan keras, lalu makin lama sulit menelan makanan lunak, bahkan cairan. Ini adalah tanda yang paling sering muncul di awal. |
| Nyeri saat menelan | Ada rasa sakit atau panas di dada bagian tengah saat menelan, sering dikira sakit maag atau asam lambung naik. |
| Suara menjadi serak | Suara berubah menjadi serak atau lemah dan tidak membaik, meskipun sudah istirahat atau minum obat. |
| Turun berat badan tanpa sebab jelas | Berat badan menurun tanpa diet, disertai nafsu makan berkurang, terutama sulit makan makanan padat. |
| Batuk kronis dan tersedak | Batuk yang tidak sembuh-sembuh, terutama saat berbaring, atau makanan sering masuk ke saluran napas sehingga menyebabkan infeksi paru berulang. |
| Nyeri dada dan makanan naik kembali | Rasa tidak nyaman atau tertekan di dada, serta makanan yang dimakan kembali naik beberapa jam setelah makan karena tidak turun dengan baik. |
Jika Anda berusia di atas 40 tahun dan tinggal di daerah dengan angka kejadian tinggi, memiliki riwayat keluarga kanker esofagus atau kanker saluran pencernaan, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol jangka panjang, penyakit refluks asam lambung kronis dengan Barrett esofagus, atau sering mengonsumsi makanan tinggi nitrit seperti makanan asin dan asap, disarankan untuk melakukan pemeriksaan endoskopi sekali setiap tahun. Pemeriksaan dengan metode seperti pewarnaan iodin atau NBI (narrow band imaging) dapat mendeteksi perubahan pra-kanker atau kanker pada tahap awal, sehingga masih dapat ditangani dengan tindakan minimal invasif dan peluang sembuh yang tinggi.