kanker ovarium

Ringkasan kanker ovarium

Kanker ovarium adalah kanker yang berasal dari ovarium atau tuba falopi. Penyakit ini sering disebut sebagai “silent killer” karena pada tahap awal gejalanya sering tidak jelas dan mudah diabaikan. Secara global, kanker ovarium merupakan salah satu kanker yang cukup sering terjadi pada wanita, dengan lebih dari 300 ribu kasus baru setiap tahun. Karena gejalanya pada tahap awal sering menyerupai keluhan ringan sehari-hari, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah kanker memasuki stadium lanjut. Meski demikian, penanganan yang cepat dan tepat tetap dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Oleh karena itu, pemeriksaan medis sedini mungkin sangat penting dilakukan. 

Di Tiongkok, terdapat sekitar 50 ribu kasus baru kanker ovarium setiap tahun, atau hampir 17% dari total kasus di dunia. Pengalaman menangani banyak kasus membuat tim dokter di Fosun Health memiliki kemampuan yang luas dalam menangani kanker ovarium, mulai dari pemeriksaan dan penentuan stadium kanker secara akurat, operasi yang disesuaikan dengan kondisi pasien, terapi target, hingga pemantauan dan perawatan jangka panjang setelah pengobatan.

Mengapa Memilih Fosun Health?

Setiap pusat pengobatan kanker ovarium menyediakan operasi, kemoterapi, dan terapi target. Namun, Fosun Health memiliki beberapa keunggulan khusus dalam penanganan kanker ovarium:

Keunggulan 1: "Too Late" is Not the End /Kanker Stadium Lanjut Bukan Akhir Segalanya.

"Dokter mengatakan kanker saya sudah menyebar ke seluruh rongga perut. Apakah masih ada harapan untuk pengobatan?"

Tantangan: Sekitar 70% pasien kanker ovarium baru terdiagnosis saat sudah berada pada stadium III–IV. Pada kondisi ini, tumor sering telah menyebar ke lapisan perut, jaringan lemak perut (omentum), dan permukaan usus.

Karena penyebarannya luas, sebagian pasien diberi tahu bahwa operasi sudah tidak memungkinkan atau hanya dapat menjalani pengobatan untuk mengurangi gejala. Padahal, mengangkat tumor sebanyak mungkin melalui operasi sangat berpengaruh terhadap peluang hidup pasien. Semakin sedikit sisa tumor setelah operasi, semakin baik hasil pengobatannya. Jika seluruh tumor yang terlihat berhasil diangkat dan tidak ada sisa tumor yang tampak (R0), harapan hidup pasien dapat meningkat dari beberapa bulan menjadi beberapa tahun.

Solusi dari kami: Kami menggunakan operasi pengangkatan tumor semaksimal mungkin (CRS) yang dikombinasikan dengan HIPEC atau kemoterapi panas di dalam rongga perut.

•   Operasi pengangkatan tumor dengan bantuan robot: Teknologi robot Da Vinci memberikan tampilan 3D yang diperbesar hingga 10 kali dan alat operasi yang stabil tanpa getaran, sehingga dokter dapat melakukan operasi dengan sangat presisi di area rongga perut yang kompleks. Melalui teknik ini, tumor pada ovarium, rahim, jaringan lemak perut (omentum), lapisan perut, diafragma, dan bagian usus yang terdampak dapat diangkat secara menyeluruh, sambil tetap mempertahankan organ dan jaringan penting yang tidak terkena kanker. Bahkan pada kanker stadium lanjut yang sudah menyebar luas, tim dokter tetap berusaha mengangkat seluruh tumor yang terlihat agar tidak ada sisa kanker yang tampak setelah operasi.

•   HIPEC (kemoterapi panas di dalam rongga perut): Setelah operasi selesai, obat kemoterapi yang dipanaskan hingga suhu 41–43°C dialirkan ke dalam rongga perut selama sekitar 90 menit. Suhu panas membantu obat masuk lebih dalam ke sel kanker dan menghancurkan sisa sel kanker kecil yang tidak dapat terlihat saat operasi. Penelitian menunjukkan bahwa HIPEC setelah pengangkatan tumor secara maksimal dapat membantu memperpanjang waktu bebas kekambuhan dan meningkatkan harapan hidup pasien secara keseluruhan.

•   Strategi operasi bertahap untuk pengangkatan tumor: Pada pasien dengan penyebaran tumor yang sangat luas sehingga operasi langsung memiliki risiko tinggi, dokter akan memberikan kemoterapi awal (NACT) terlebih dahulu untuk mengecilkan tumor. Setelah ukuran tumor berkurang, barulah dilakukan operasi pengangkatan tumor dan dilanjutkan dengan HIPEC (kemoterapi panas di rongga perut). Pendekatan ini membantu mengubah kondisi yang awalnya sulit dioperasi menjadi lebih memungkinkan untuk dilakukan pengangkatan tumor secara optimal.

Yang perlu di ketahui: Penyebaran kanker yang luas di rongga perut bukan berarti tidak ada harapan. Dengan kombinasi operasi pengangkatan tumor secara maksimal menggunakan bantuan robot dan HIPEC, kanker ovarium stadium lanjut tetap dapat dikendalikan dalam jangka panjang.

Keunggulan 2: Operasi Kanker Tidak Selalu Berarti Kehilangan Semua Organ

"Jika harus menjalani operasi besar dan banyak organ diangkat, apakah saya masih bisa menjalani hidup dengan baik setelahnya?"

Tantangan: Operasi kanker ovarium termasuk operasi yang besar dan kompleks. Tindakan ini dapat meliputi pengangkatan rahim, kedua ovarium dan saluran tuba, jaringan lemak di perut, lapisan perut, serta kelenjar getah bening di area panggul dan sekitar pembuluh darah besar di perut. Bagi pasien usia muda, operasi ini dapat menyebabkan hilangnya kemampuan untuk memiliki anak dan memicu menopause lebih awal karena ovarium harus diangkat. Masa pemulihan setelah operasi juga bisa cukup lama dan melelahkan. Karena itu, banyak pasien merasa khawatir terhadap perubahan pada tubuh dan kualitas hidup mereka setelah pengobatan.

Solusi dari kami: Tim dokter berupaya mengangkat tumor secara maksimal sambil tetap mempertahankan organ yang masih aman untuk dipertahankan, sesuai kondisi dan kebutuhan setiap pasien.

•   Operasi untuk mempertahankan kesuburan pada stadium awal: Pada pasien muda dengan kanker ovarium stadium awal (IA/IC1) yang hanya terjadi pada satu ovarium, dokter dapat mengangkat ovarium dan saluran tuba yang terkena kanker saja. Sementara itu, rahim dan ovarium di sisi yang sehat tetap dipertahankan agar pasien masih memiliki kesempatan untuk hamil di masa depan. Tindakan ini tetap dilakukan dengan pemeriksaan kanker secara menyeluruh, sehingga pengobatan tetap aman dan sesuai dengan kondisi penyakit pasien.

•   Pembersihan kelenjar getah bening dengan pelestarian saraf: Dengan bantuan robot Da Vinci, dokter dapat membersihkan kelenjar getah bening dengan lebih tepat sambil menjaga saraf penting di area panggul agar tidak rusak. Cara ini membantu mempertahankan fungsi buang air kecil, pergerakan usus, dan fungsi seksual setelah operasi.

•   Pembekuan jaringan ovarium: Pada pasien yang harus menjalani pengangkatan kedua ovarium, jaringan ovarium dapat disimpan terlebih dahulu sebelum operasi melalui proses pembekuan khusus. Tujuannya adalah untuk membantu mempertahankan peluang memiliki anak dan menjaga fungsi hormon di masa depan.

•   Tindakan minimal invasif: Jika kondisi dan penyebaran kanker memungkinkan, operasi dapat dilakukan dengan laparoskopi atau bantuan robot melalui sayatan kecil. Metode ini membantu mengurangi nyeri setelah operasi, mempercepat pemulihan, dan memungkinkan pasien memulai kemoterapi lebih cepat.

Yang perlu di ketahui: Mengangkat tumor sebanyak mungkin tidak berarti semua organ harus diangkat. Dokter akan berusaha mengangkat seluruh kanker yang terlihat, sambil tetap mempertahankan organ dan saraf yang masih sehat. Selain mengobati kanker, pemulihan tubuh, keseimbangan hormon, dan kualitas hidup pasien setelah operasi juga menjadi perhatian penting selama pengobatan.

Keunggulan 3: Penanganan untuk Cairan di Perut, Sumbatan Usus, dan Nyeri

"Perut saya sangat bengkak sampai sulit bernapas. Saya tidak bisa makan, sulit tidur, dan rasa sakitnya sangat berat. Apakah kondisi ini bisa ditangani terlebih dahulu?"

Tantangan: Pada kanker ovarium stadium lanjut, cairan dapat menumpuk dalam jumlah banyak di rongga perut (asites). Kondisi ini membuat perut terasa sangat penuh, menekan paru-paru, dan menyebabkan sesak napas serta nyeri. Penyebaran kanker ke permukaan usus juga dapat menyebabkan sumbatan usus, sehingga pasien mengalami muntah terus-menerus, sulit makan, dan kekurangan cairan. 

Selain itu, penyebaran kanker di rongga perut dapat menimbulkan nyeri berat yang terkadang sulit dikendalikan meskipun sudah menggunakan obat pereda nyeri. Akibat kondisi ini, tubuh pasien bisa menjadi sangat lemah sehingga belum memungkinkan untuk langsung menjalani kemoterapi atau pengobatan utama lainnya.

Solusi dari kami: Pendekatan intervensi multimodal untuk memulihkan kenyamanan dan fungsi tubuh terlebih dahulu

•   Pengeluaran cairan perut dan pemberian obat langsung ke rongga perut: Melalui pemasangan selang kecil dengan bantuan pencitraan, cairan ganas di rongga perut dapat dikeluarkan dengan cepat untuk membantu mengurangi tekanan dan meredakan sesak napas dalam beberapa jam. Setelah itu, obat kemoterapi atau terapi target dapat diberikan langsung ke dalam rongga perut sehingga konsentrasi obat di area kanker menjadi lebih tinggi, dengan efek samping ke seluruh tubuh yang lebih rendah. Pada pasien dengan penumpukan cairan yang sering berulang, dapat dipasang kateter permanen khusus agar cairan dapat dikeluarkan secara berkala di rumah dengan lebih nyaman.

•   Pemasangan stent pada saluran pencernaan (SEMS): Jika kanker menyebabkan penyumbatan pada usus halus atau usus besar, dokter dapat memasang stent, yaitu tabung kecil khusus untuk membuka kembali saluran usus yang tersumbat.      Tindakan ini membantu makanan dan cairan kembali dapat melewati usus dengan lebih lancar, sehingga pasien bisa makan dan minum kembali dengan lebih nyaman.

•   Blok saraf pleksus celiac: Pada nyeri hebat di perut bagian atas atau punggung akibat penyebaran kanker ke saraf di area perut, dokter dapat melakukan tindakan pemblokiran saraf dengan bantuan pencitraan. Prosedur ini bertujuan menghentikan jalur penghantaran rasa nyeri sehingga keluhan nyeri dapat berkurang secara signifikan. Dengan cara ini, kebutuhan penggunaan obat pereda nyeri kuat juga dapat dikurangi.

•   Terapi panas tumor (hyperthermia): Pada kasus penyebaran kanker di rongga perut dan penumpukan cairan (asites), area rongga perut dipanaskan hingga suhu 40–43°C untuk meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap kemoterapi yang diberikan langsung ke dalam perut. Metode ini berfungsi seperti “penguat efek pengobatan”, sehingga dosis obat yang sama dapat bekerja lebih efektif dalam membunuh sel kanker, sementara jaringan normal di sekitarnya tetap aman dan tidak rusak.

Yang perlu di ketahui: Sebelum fokus pada pengobatan utama kanker, kami terlebih dahulu berupaya mengurangi keluhan dan meningkatkan kenyamanan pasien. Pasien dapat kembali bernapas lebih lega, makan lebih baik, dan nyeri dapat dikendalikan. Setelah kondisi tubuh lebih stabil, pasien akan lebih siap menjalani pengobatan kanker selanjutnya.

Keunggulan 4: Setelah kemoterapi tidak lagi efektif, masih ada pilihan pengobatan lain

"Setelah kemoterapi selesai, kurang dari enam bulan kanker saya kembali. Dokter mengatakan kemoterapi jenis platinum sudah tidak lagi efektif untuk saya. Apakah masih ada pengobatan lain yang bisa dilakukan?”

Tantangan: Pada kanker ovarium, sebagian besar pasien awalnya merespons baik terhadap kemoterapi. Namun, kanker sering dapat kambuh kembali. Jika kanker muncul kembali dalam waktu kurang dari enam bulan setelah kemoterapi, kondisi ini disebut “resistensi platinum”. Pada tahap ini, pilihan pengobatan biasanya menjadi lebih terbatas. Meskipun ada terapi lanjutan seperti obat target (PARP inhibitor), obat untuk menghambat pembuluh darah kanker, dan terapi baru lainnya, akses dan biaya pengobatan ini tidak selalu mudah.

Solusi dari kami: Di Tiongkok, terapi lanjutan disesuaikan secara tepat dengan karakteristik biologis tumor dan dapat diakses.

•   PARP inhibitor: Untuk kanker ovarium dengan mutasi BRCA atau HRD positif, obat seperti olaparib, niraparib, dan fluzoparib sudah disetujui dan digunakan secara rutin. Obat ini dapat digunakan sebagai terapi lanjutan atau terapi pemeliharaan untuk memperpanjang waktu tanpa perkembangan penyakit secara signifikan. Bahkan pada pasien dengan HRD negatif, PARP inhibitor masih dapat memberikan manfaat klinis.

•   Terapi anti-angiogenesis: Bevacizumab dapat digunakan bersama kemoterapi maupun sebagai terapi lanjutan pada kanker yang sensitif atau kebal platinum. Obat ini bekerja dengan menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan tumor untuk tumbuh, sehingga membantu “memutus suplai makanan” tumor.

•   ADC dan terapi target baru: Tersedia obat baru bernama ADC yang bekerja langsung menargetkan sel kanker, misalnya mirvetuximab soravtansine. Obat ini digunakan untuk pasien kanker ovarium dengan FRα positif pada pengobatan lanjutan.

•   Imunoterapi: Pada jenis kanker ovarium MSI-H/dMMR, imunoterapi dengan obat penghambat PD-1 dapat membantu memberikan respons pengobatan yang lebih kuat dan bertahan lama.

•   Akses cepat ke uji klinis fase III: Jika pengobatan standar sudah tidak efektif, pasien dapat segera mengikuti uji klinis untuk terapi terbaru seperti PARP inhibitor generasi baru, kombinasi imunoterapi dan obat penghambat pembuluh darah, ADC baru, serta terapi sel CAR-T. Uji klinis ini biasanya tersedia lebih awal dibandingkan di banyak negara lain. Dengan dukungan penelitian dan produksi di Tiongkok, biaya pengobatan menjadi lebih terjangkau (sekitar 30%–50% dibandingkan Eropa dan Amerika), tanpa mengurangi kualitas. Pemilihan terapi juga disesuaikan berdasarkan hasil pemeriksaan genetik (NGS) seperti BRCA dan HRD, serta pengalaman dokter yang menangani banyak kasus kanker ovarium.

Yang perlu di ketahui: Kondisi “kebal platinum” bukan berarti tidak ada lagi pengobatan. Artinya, jenis kemoterapi tertentu sudah tidak bekerja dengan baik. Hasil pemeriksaan seperti BRCA, HRD, atau FRα dapat membantu dokter memilih pengobatan lanjutan yang masih bisa digunakan dan lebih sesuai dengan kondisi pasien.

Pendampingan Menyeluruh dan Akses Pengobatan Terkini

Akses cepat ke uji klinis: Jika pengobatan standar sudah tidak berhasil, pasien dapat mengikuti uji klinis fase III di Tiongkok yang biasanya tersedia lebih cepat (sekitar 3–5 tahun lebih awal dibandingkan di banyak negara lain).

Melalui pemeriksaan genetik NGS, dokter dapat menyesuaikan uji klinis dengan perubahan genetik pada tumor pasien. Seluruh proses dilakukan dengan pengawasan medis dan aturan etik yang ketat.

Pengobatan terpadu dengan dukungan terapi tradisional Tiongkok: Pengobatan tradisional Tiongkok digunakan bersama dengan terapi utama untuk membantu menjaga kondisi tubuh, meningkatkan daya tahan, dan membantu pasien lebih kuat selama menjalani pengobatan kanker.

•   Mengurangi efek samping pengobatan: Terapi ini membantu melindungi sumsum tulang, mengurangi mual dan muntah akibat kemoterapi, serta mengurangi rasa lelah karena kanker. Selain itu, juga membantu mengurangi gangguan saraf akibat obat kemoterapi dan memperbaiki fungsi usus setelah operasi.

•   Membantu meningkatkan efektivitas pengobatan: Beberapa obat pendukung dapat membantu membuat sel kanker lebih sensitif terhadap kemoterapi dan membantu pemulihan setelah operasi besar.

•   Dukungan akupunktur: Akupunktur dapat membantu mengurangi nyeri, mual, kelelahan, dan gangguan saraf akibat kemoterapi.

Tujuannya: Mengurangi beban pengobatan, menjaga daya tahan tubuh, dan membantu pasien tetap kuat untuk menjalani seluruh proses pengobatan serta pemulihan setelah operasi.

Keputusan oleh Tim Dokter Multidisiplin

Setiap pasien kanker ovarium akan dibahas bersama oleh tim dokter dari berbagai bidang, seperti dokter bedah kanker, dokter onkologi, radioterapi, radiologi intervensi, dokter pencernaan (jika usus terdampak), ahli gizi, dokter radiologi, dan dokter patologi. 

Penanganan kanker ovarium cukup kompleks, sehingga perlu banyak pertimbangan, seperti apakah langsung operasi atau perlu kemoterapi dulu untuk mengecilkan tumor, apakah pasien cocok untuk HIPEC, apakah kesuburan masih bisa dipertahankan pada stadium awal, serta bagaimana urutan penggunaan obat seperti PARP inhibitor, obat anti-angiogenesis, dan kemoterapi pada kasus yang sudah tidak merespons pengobatan sebelumnya.

MDT (Multidisciplinary Team) akan dilakukan dalam waktu 48 jam. Rencana pengobatan Anda disusun berdasarkan stadium tumor, profil molekuler (BRCA/HRD), kelayakan untuk operasi, kondisi nutrisi, serta prioritas pribadi pasien melalui keputusan bersama. Silakan unggah hasil USG transvaginal, CT/MRI, kadar CA125/HE4, laporan patologi, serta hasil pemeriksaan NGS (BRCA, HRD, HER2, MSI). 

Kasus pasien dengan kanker ovarium

Diagnosis: kanker ovarium stadium IIIC

Rencana pengobatan:

Pasien menjalani beberapa tahap pengobatan, yaitu kemoterapi sebelum operasi (neoadjuvan), operasi pengangkatan tumor dengan bantuan robot Da Vinci, kemoterapi HIPEC yaitu kemoterapi yang diberikan langsung ke rongga perut dengan suhu hangat, serta terapi lanjutan menggunakan obat inhibitor PARP untuk menjaga hasil pengobatan.

Pada bulan Juli, pasien menjalani operasi pengangkatan tumor (sitoreduksi) dengan bantuan robot Da Vinci. Proses operasi berjalan stabil, dan segera setelah operasi dilakukan kemoterapi HIPEC melalui perfusi panas intraperitoneal. 

Setelah pengobatan:

Pasien diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama 7 hari, dan 5 minggu kemudian sudah dapat kembali menjalani aktivitas normal. Terapi lanjutan dengan obat olaparib direncanakan akan diberikan selama 2 tahun untuk menjaga hasil pengobatan. Hasil pemeriksaan CT setelah 18 bulan tidak menunjukkan tanda kekambuhan kanker. 

Tim multidisiplin kanker ovarium kami akan memberikan rencana awal pengobatan yang dipersonalisasi dalam waktu 48 jam, termasuk evaluasi pelestarian kesuburan dan strategi terapi untuk menurunkan stadium tumor.

Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251