Alur Diagnosis yang Tepat dan Menyeluruh, Di Fosun Health, diagnosis kanker serviks tidak hanya sekadar “menemukan kanker”, tetapi juga untuk menjawab tiga pertanyaan penting: sejauh mana kanker telah menyebar? Apakah rahim dan fungsi kesuburan masih dapat dipertahankan? Terapi apa yang paling sesuai berdasarkan karakteristik biologis tumor? Melalui sistem diagnosis terpadu, seluruh proses evaluasi dapat dilakukan dalam beberapa hari sehingga pasien dapat segera memperoleh rencana pengobatan yang tepat.
Kami menggunakan kolposkop beresolusi tinggi yang dikombinasikan dengan pewarnaan asam asetat dan iodin Lugol untuk menampilkan dengan jelas area sel abnormal pada leher rahim. Biopsi terarah kemudian dilakukan untuk menentukan jenis jaringan, tingkat keganasan tumor, serta ada atau tidaknya invasi ke pembuluh darah dan pembuluh limfa.
MRI adalah pemeriksaan yang sangat penting untuk melihat sejauh mana kanker serviks berkembang di area sekitarnya. Pemeriksaan ini membantu mengetahui ukuran tumor, seberapa dalam kanker telah masuk ke jaringan leher rahim, serta apakah sudah menyebar ke organ di sekitarnya seperti rahim, vagina, kandung kemih, atau rektum. Hasil MRI digunakan dokter untuk menentukan pilihan pengobatan yang paling tepat, misalnya apakah masih bisa dilakukan operasi yang mempertahankan kesuburan, perlu pengangkatan rahim, atau kombinasi radioterapi dan kemoterapi.
Pemeriksaan PET-CT digunakan untuk mendeteksi penyebaran kanker ke kelenjar getah bening, seperti di area panggul dan sekitar aorta perut, serta penyebaran ke organ lain seperti paru-paru, hati, dan tulang. Pemeriksaan ini sangat penting untuk menentukan stadium kanker secara tepat dan membantu perencanaan radioterapi yang sesuai.
Melalui pemeriksaan NGS, dilakukan analisis terhadap penanda seperti PD-L1, HER2, TMB, MSI/dMMR, fusi NTRK, serta lebih dari 300 gen yang berhubungan dengan kanker. Hasil pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan apakah pasien cocok menjalani imunoterapi (misalnya pembrolizumab pada tumor dengan PD-L1 positif atau MSI-H), terapi target HER2, atau mengikuti uji klinis terapi baru seperti ADC dan antibodi bispesifik. Tujuannya adalah agar pengobatan bisa disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik tumor pada setiap pasien, sehingga lebih tepat dan efektif.