Leukemia

Ikhtisar Leukemia

Leukemia adalah kanker pada sistem pembentukan darah, terutama di sumsum tulang. Penyakit ini menyebabkan sel darah putih abnormal berkembang berlebihan dan mengganggu produksi sel darah normal. Dengan pengobatan modern, banyak jenis leukemia dapat dikendalikan, bahkan disembuhkan. Secara global, terdapat lebih dari 450.000 kasus baru setiap tahun. Karena gejala awalnya sering tidak khas, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium menengah hingga lanjut. Namun, jika dideteksi dan diobati lebih cepat, peluang kesembuhan tetap tinggi, sehingga pemeriksaan medis sejak dini sangat penting. 

Di Tiongkok, terdapat sekitar 75.000 kasus baru setiap tahun, menjadikannya negara dengan jumlah pasien leukemia terbanyak di dunia. Di Fosun Health, tingginya jumlah kasus memberikan pengalaman klinis yang luas bagi tim dokter, sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih terarah, mulai dari pemeriksaan molekuler, terapi target, imunoterapi, hingga transplantasi sel punca.

Mengapa Memilih Fosun Health?

Setiap program leukemia umumnya mencakup kemoterapi dan transplantasi. Berikut keunggulan yang membedakan di Fosun Health:

Keunggulan 1: Dari "vonis berat" menjadi pengobatan sesuai jenis leukemia

"Dokter mengatakan saya leukemia akut, dan jika tidak diobati mungkin hanya tersisa beberapa bulan. Apakah sudah tidak bisa di sembuhkan?"

Tantangan: Istilah "leukemia" sering menimbulkan ketakutan karena dianggap sebagai penyakit yang selalu berujung fatal. Banyak pasien bahkan sebagian tenaga medis masih melihatnya sebagai kondisi yang sulit disembuhkan.

Namun, pengobatan leukemia modern tidak lagi menggunakan pendekatan yang sama untuk semua pasien. Terapi kini disesuaikan dengan jenis dan karakteristik leukemia masing-masing. Sebagai contoh, acute promyelocytic leukemia (APL/M3) yang dahulu termasuk salah satu jenis leukemia akut paling berbahaya, kini justru menjadi salah satu yang memiliki tingkat kesembuhan sangat tinggi jika mendapatkan pengobatan yang tepat.

Solusi dari kami: Terapi Berdasarkan Risiko Molekuler, Bukan Hanya Nama Penyakit

•   APL (tipe M3): Kombinasi ATRA (all-trans retinoic acid) dan ATO (arsenic trioxide) adalah terapi yang dikembangkan di Tiongkok dan telah digunakan secara luas di dunia. Terapi tanpa kemoterapi ini memberikan tingkat remisi lengkap lebih dari 90% dan angka kesembuhan lebih dari 80%. Dengan pendekatan ini, pasien dapat sembuh tanpa harus menjalani kemoterapi berat yang menimbulkan banyak efek samping.

•   Ph-positive ALL atau CML: Obat TKI (tyrosine kinase inhibitor) seperti imatinib, dasatinib, dan ponatinib bekerja dengan menargetkan kelainan gen BCR-ABL secara spesifik. Terapi ini dapat dikombinasikan dengan kemoterapi dosis rendah atau digunakan sebagai terapi utama pada fase kronis, sehingga CML dapat dikendalikan seperti penyakit kronis, dan hasil pengobatan ALL juga menjadi lebih baik.

•   AML dengan mutasi FLT3: Obat seperti midostaurin atau gilteritinib adalah terapi target yang digunakan untuk menghambat mutasi FLT3 yang menyebabkan pertumbuhan kanker lebih agresif. Obat ini dapat diberikan bersama kemoterapi atau sebagai terapi lanjutan jika penyakit kambuh.

•   AML dengan mutasi IDH1/2: Obat ivosidenib atau enasidenib adalah obat oral yang bekerja dengan membantu sel kanker berubah menjadi sel yang lebih normal tanpa menggunakan kemoterapi keras.

•   AML dengan mutasi TP53 atau risiko tinggi: Kombinasi venetoclax dengan obat hipometilasi (HMA) merupakan pilihan terapi dengan intensitas lebih ringan, yang dapat membantu pasien lanjut usia atau pasien yang tidak dapat menjalani kemoterapi standar.

Yang peru di ketahui: Leukemia akut bukan hanya satu jenis penyakit yang sama pada semua pasien. Setiap pasien memiliki "profil molekuler" yang berbeda, seperti APL, FLT3, IDH, atau BCR-ABL, yang menentukan pilihan pengobatan yang paling sesuai. Dengan memahami profil ini, beberapa pasien dapat diobati tanpa kemoterapi konvensional, atau penyakitnya dapat dikendalikan dalam jangka panjang seperti penyakit kronis yang stabil.

Keunggulan 2: Melewati Masa Terdalam Supresi Sumsum Tulang

"Saya mendengar setelah kemoterapi, sel darah putih bisa turun sampai nol, dan infeksi ringan saja bisa mengancam nyawa. Bagaimana Anda membantu saya melewati kondisi ini?"

Tantangan: Kemoterapi leukemia tidak hanya menghancurkan sel kanker, tetapi juga merusak sumsum tulang yang sehat. Pasien kemudian masuk ke fase neutropenia berkepanjangan (ANC = 0), di mana bakteri, jamur, dan virus yang biasanya tidak berbahaya bagi orang sehat dapat menjadi infeksi yang mematikan. Selaput lendir mulut dan saluran pencernaan dapat mengalami luka dan peradangan. Trombosit juga turun drastis, yang dapat menyebabkan perdarahan spontan di otak atau saluran pencernaan. Pada fase inilah banyak kematian pada pasien leukemia terjadi—bukan karena kanker itu sendiri, tetapi akibat efek pengobatan.

Solusi dari kami: Sistem Perlindungan Menyeluruh Saat Daya Tahan Tubuh Sangat Lemah

•   Ruang isolasi khusus: Pasien dirawat di ruang isolasi dengan penyaring udara HEPA dan tekanan positif, serta aturan ketat terkait kunjungan dan makanan. Langkah ini membantu mengurangi risiko paparan bakteri, jamur, dan virus selama masa ketika sistem imun sangat lemah setelah kemoterapi.

•   Pencegahan infeksi sejak dini: Antibiotik spektrum luas, obat antijamur seperti vorikonazol dan posakonazol, serta antivirus seperti asiklovir diberikan secara pencegahan, bahkan sebelum muncul demam. Pemeriksaan rutin juga dilakukan untuk memantau tanda awal infeksi agar dapat ditangani sebelum menjadi berat.

•   Dukungan transfusi dan pemulihan sel darah: Pasien dapat menerima transfusi trombosit, transfusi sel darah merah iradiasi, serta obat G-CSF untuk membantu mempercepat pemulihan sel darah putih dan mengurangi risiko perdarahan.

•   Perlindungan saluran cerna dan dukungan nutrisi: Tim nutrisi klinis dan pengobatan tradisional Tiongkok bekerja bersama memberikan nutrisi pendukung seperti glutamin dan omega-3, serta obat kumur herbal untuk membantu menjaga kesehatan mulut dan saluran pencernaan. Hal ini penting untuk mengurangi risiko infeksi dari bakteri usus.

•   Pendekatan integratif untuk mengurangi efek samping terapi: Pengobatan tradisional Tiongkok berbasis bukti digunakan untuk membantu mengurangi mual dan muntah akibat kemoterapi, mengurangi kelelahan, membantu pemulihan trombosit dan sel darah putih, serta meredakan sariawan atau radang mulut akibat terapi. Tujuannya bukan menggantikan kemoterapi, tetapi membantu pasien tetap cukup kuat untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan sesuai rencana.

Yang perlu di ketahui: Kemoterapi memang dapat menekan fungsi sumsum tulang dan membuat daya tahan tubuh turun drastis. Namun, Anda tidak harus melewati masa sulit ini sendirian. Melalui sistem perlindungan yang menyeluruh mulai dari ruang isolasi, obat pencegahan infeksi, dukungan transfusi darah, nutrisi klinis, hingga terapi pendukung integrative kami berupaya membantu Anda melewati fase paling kritis dengan lebih aman hingga kondisi tubuh kembali pulih.

Keunggulan 3: Kekambuhan Setelah Transplantasi Bukan Akhir Pengobatan

"Saya sudah menjalani transplantasi sumsum tulang, tetapi leukemia kambuh kembali. Atau sel donor justru menyerang tubuh saya sendiri. Apakah ini berarti sudah tidak ada harapan lagi?"

Tantangan: Transplantasi sel punca darah (transplantasi sumsum tulang) merupakan salah satu terapi paling efektif untuk leukemia. Namun, pada beberapa pasien, leukemia dapat kambuh kembali setelah transplantasi, atau muncul komplikasi serius seperti graft-versus-host disease (GVHD), yaitu kondisi ketika sel donor menyerang jaringan tubuh pasien. Kondisi ini sering membuat pasien merasa putus asa, dan sebagian pasien bahkan diberitahu bahwa pilihan terapi sudah sangat terbatas.

Solusi dari kami: Kami menyediakan pendekatan penanganan lanjutan setelah transplantasi untuk membantu mengatasi kekambuhan maupun komplikasi, sehingga pasien masih memiliki peluang untuk melanjutkan pengobatan secara aktif.

•   Terapi CAR-T: Untuk pasien B-cell ALL atau limfoma yang kambuh setelah transplantasi, terapi CAR-T yang menargetkan CD19 atau CD22 dapat menjadi pilihan. Pada terapi ini, sel T dari pasien atau donor dimodifikasi di laboratorium agar mampu mengenali dan menghancurkan sisa sel leukemia. Pada kasus kekambuhan setelah transplantasi, tingkat respons terapi ini dapat mencapai lebih dari 70%.

•   Infus limfosit donor (DLI): Pada pasien CML, AML, atau ALL yang kambuh setelah transplantasi, sel imun dari donor dapat diberikan kembali secara bertahap untuk membantu sistem imun donor menyerang sisa sel kanker. Pendekatan ini dapat memberikan efek antileukemia tanpa harus langsung menjalani transplantasi kedua.

•   Terapi target untuk kekambuhan: Jika setelah transplantasi ditemukan kekambuhan atau mutasi tertentu seperti FLT3, IDH, atau BCR-ABL, terapi target seperti gilteritinib, ivosidenib, atau ponatinib dapat digunakan untuk membantu mencapai remisi kembali tanpa perlu kemoterapi tambahan yang berat.

•   Transplantasi kedua: Pada pasien tertentu yang berhasil mencapai remisi kembali setelah terapi lanjutan, transplantasi alogenik kedua dengan donor lain dapat memberikan peluang kesembuhan jangka panjang.

•   Penanganan GVHD yang lebih tepat: Untuk kasus GVHD akut atau kronis yang berat, tersedia terapi seperti extracorporeal photopheresis (ECP), ruxolitinib, dan terapi sel punca mesenkimal. Terapi ini membantu mengendalikan reaksi sel donor yang menyerang tubuh pasien, sambil tetap mempertahankan efek antikanker.

Yang perlu di ketahui: Kekambuhan setelah transplantasi bukan berarti pengobatan sudah berakhir. Dengan dukungan terapi sel, terapi target, dan pengaturan sistem imun yang tepat, pasien masih memiliki peluang untuk mencapai remisi kembali, bahkan memperoleh kesempatan kedua untuk sembuh.

Keunggulan 4: Saat Pengobatan Standar Tidak Lagi Efektif, Akses Terapi Lanjutan di Tiongkok dengan Biaya Lebih Terjangkau

"Leukemia saya kambuh setelah kemoterapi dan transplantasi. Obat yang saya butuhkan sulit didapat atau biayanya sangat mahal. Apakah masih ada pilihan pengobatan lain?"

Tantangan: Leukemia yang kambuh atau tidak lagi merespons pengobatan standar terutama pada pasien dengan mutasi gen tertentu seperti TP53 atau kelainan kromosom kompleks memang lebih sulit ditangani. Saat ini tersedia berbagai obat generasi baru, seperti inhibitor menin, inhibitor BCL-2, dan TKI generasi terbaru, yang dapat memberikan hasil pengobatan lebih baik pada beberapa jenis leukemia. Namun, di banyak negara obat-obatan ini masih sulit diakses atau memiliki biaya yang sangat tinggi.

Solusi dari kami: Di Tiongkok, pasien dapat memperoleh akses ke terapi lanjutan lebih cepat dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan banyak negara lain.

•   Inhibitor BCL-2: Venetoclax yang dikombinasikan dengan azacitidine atau decitabine telah digunakan secara luas untuk pasien AML usia lanjut atau pasien yang tidak dapat menjalani kemoterapi intensif. Kombinasi ini juga dapat membantu mengendalikan leukemia yang kambuh kembali.

•   Inhibitor Menin: Untuk AML yang kambuh dengan mutasi NPM1 atau perubahan gen KMT2A, obat golongan inhibitor menin menjadi pilihan terapi baru. Obat ini bekerja dengan menghambat mekanisme yang membantu pertumbuhan sel leukemia, sehingga memberikan harapan baru bagi pasien dengan pilihan terapi yang terbatas.

•   TKI Generasi Baru:Asciminib digunakan untuk pasien CML yang sudah tidak merespons beberapa jenis TKI sebelumnya, sedangkan gilteritinib digunakan pada AML kambuh dengan mutasi FLT3. Kedua obat ini merupakan terapi target yang dirancang lebih spesifik sesuai mutasi penyakit.

•   Terapi Arsenik dan Pengobatan Tradisional Tiongkok: Selain ATO untuk APL, tersedia juga obat arsenik oral dan kombinasi pengobatan tradisional Tiongkok yang telah melalui penelitian klinis untuk sindrom mielodisplasia dan AML risiko rendah. Terapi ini dapat membantu mengendalikan penyakit dengan efek samping yang lebih ringan, baik sebagai terapi pemeliharaan maupun perawatan paliatif.

•   Akses Cepat ke Uji Klinis Fase III: Jika pengobatan standar tidak lagi efektif, pasien dapat memperoleh akses lebih cepat ke terapi terbaru melalui uji klinis, seperti Bispecific T-cell Engager (BiTE), CAR-T generasi baru, dan obat epigenetik terbaru. Di Tiongkok, akses ini sering tersedia 3–5 tahun lebih awal dibandingkan banyak negara lain. Karena banyak terapi dikembangkan dan diproduksi langsung di Tiongkok, biaya pengobatan umumnya hanya sekitar 30–50% dibandingkan negara Barat, tanpa mengurangi kualitas terapi. Pemilihan pengobatan juga didukung oleh pemeriksaan NGS dan ditangani oleh dokter berpengalaman dalam menangani leukemia yang resisten terhadap berbagai lini terapi.

Yang perlu di ketahui: Mutasi seperti TP53, NPM1, atau FLT3 bukan berarti tidak ada harapan. Hasil pemeriksaan genetik justru membantu dokter menentukan terapi yang paling sesuai, sehingga pasien dapat memperoleh akses ke pengobatan yang lebih tepat, lebih cepat, dan lebih terjangkau.

Pendampingan Menyeluruh dan Akses ke Terapi Terkini

Akses Cepat ke Uji Klinis

Jika pengobatan standar tidak lagi efektif, pasien dapat memperoleh akses ke berbagai uji klinis fase III di Tiongkok, yang sering kali tersedia 3–5 tahun lebih awal dibandingkan banyak negara lain. Melalui pemeriksaan NGS, dokter dapat mencocokkan pasien dengan terapi penelitian yang sesuai dengan mutasi gen tertentu. Seluruh proses dilakukan dengan pengawasan etik dan pemantauan medis yang ketat.

Pendekatan Onkologi Integratif dan Dukungan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Pengobatan tradisional Tiongkok digunakan bersamaan dengan terapi utama untuk membantu mendukung pemulihan sel darah dan fungsi sumsum tulang selama proses pengobatan leukemia.

•   Mengurangi Efek Samping Pengobatan: Pendekatan ini membantu melindungi saluran pencernaan, mengurangi mual dan muntah akibat kemoterapi, mengurangi rasa lelah selama pengobatan, membantu pemulihan trombosit dan neutrofil, serta meredakan sariawan atau radang pada mulut akibat terapi.

•   Mendukung Efektivitas Terapi: Beberapa sediaan standar yang dipilih secara khusus dapat digunakan bersama kemoterapi atau terapi target untuk membantu tubuh lebih kuat menjalani pengobatan dan mendukung pemulihan sistem imun.

•   Tujuan Utama: Membantu menjaga fungsi sumsum tulang, menurunkan risiko infeksi, dan memastikan pasien memiliki kondisi fisik yang cukup baik untuk menyelesaikan seluruh rangkaian terapi sesuai jadwal, termasuk saat menjalani dan setelah transplantasi.

Penanganan Terpadu oleh Tim Multidisiplin

Setiap pasien leukemia ditangani oleh tim multidisiplin yang terdiri dari dokter hematologi-onkologi, spesialis terapi imun dan terapi sel, dokter penyakit infeksi, ahli nutrisi klinis, spesialis patologi dan flow cytometry, radiologi, serta kedokteran integratif.

Penanganan leukemia memerlukan banyak pertimbangan medis, seperti menentukan jenis dan intensitas kemoterapi awal, waktu terbaik untuk transplantasi serta kecocokan donor, pilihan terapi jika penyakit kambuh seperti CAR-T, DLI, atau terapi target, hingga pencegahan dan penanganan GVHD serta pengendalian infeksi saat daya tahan tubuh sangat rendah. Tim MDT (Multidisciplinary Team) akan melakukan diskusi dalam waktu 48 jam untuk menyusun rencana pengobatan yang paling sesuai bagi setiap pasien. Keputusan terapi dibuat berdasarkan jenis dan risiko leukemia, hasil pemeriksaan molekuler, usia pasien, kondisi kesehatan lain yang menyertai, serta kebutuhan dan prioritas pasien maupun keluarga.

kasus pasien

Diagnosis: Leukemia mieloid akut (AML) dengan mutasi FLT3.

Rencana pengobatan:

Pasien menjalani terapi suportif yang meliputi perawatan di ruang bertekanan positif dengan filtrasi HEPA, pemberian cairan (hidrasi), pencegahan sindrom lisis tumor, antibiotik spektrum luas, transfusi darah, dan transfusi trombosit. Selain itu, pasien juga mendapatkan kemoterapi induksi yang dikombinasikan dengan terapi target. Setelah terapi induksi selesai, pemeriksaan menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah kecil sel leukemia yang tersisa (MRD/Minimal Residual Disease) pada tingkat rendah. Oleh karena itu, pengobatan dilanjutkan dengan penambahan inhibitor BCL-2 generasi baru yang dikembangkan di Tiongkok sebagai terapi penguatan sebelum transplantasi. Tujuannya adalah untuk mencapai remisi yang lebih mendalam dan mengurangi risiko masih adanya sel leukemia sebelum dilakukan transplantasi.

Hasil pengobatan:

Pada hari ke-28 setelah pengobatan dimulai, jumlah sel leukemia (sel blast) di sumsum tulang telah turun hingga kurang dari 5%, yang menunjukkan bahwa pasien telah mencapai remisi berdasarkan pemeriksaan morfologi. Selain itu, pemeriksaan MRD (penyakit sisa minimal) menunjukkan hasil negatif, sehingga pasien dapat melanjutkan ke tahap transplantasi sel punca hematopoietik alogenik. Selama menjalani pengobatan, pasien mengalami ruam kulit ringan dan gangguan fungsi hati. Namun, kedua kondisi tersebut berhasil dikendalikan dengan terapi kortikosteroid. Pada pemeriksaan ulang sumsum tulang bulan ke-18, pasien menunjukkan remisi molekuler lengkap. Mutasi FLT3 juga sudah tidak terdeteksi lagi. Hasil ini menunjukkan respons pengobatan yang sangat baik dan memberikan harapan bahwa penyakit dapat dikendalikan secara stabil dalam jangka panjang.

Unggah hasil pemeriksaan darah lengkap, laporan aspirasi dan biopsi sumsum tulang, hasil flow cytometry, pemeriksaan sitogenetik/FISH, serta hasil pemeriksaan molekuler NGS/PCR seperti FLT3, NPM1, IDH, dan BCR-ABL. Tim multidisiplin leukemia kami, terdiri dari dokter hematologi, dokter transplantasi, dan spesialis imunoterapi akan menyiapkan rencana pengobatan awal yang disesuaikan dengan kondisi Anda dalam waktu 48 jam. Evaluasi ini meliputi penilaian tingkat risiko leukemia, pilihan terapi target yang sesuai, kemungkinan penggunaan terapi CAR-T, serta penilaian kebutuhan dan kesiapan transplantasi.

Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251