Jabatan:
Spesialis Deteksi dan Penanganan Benjolan Paru (Nodul), Pusat Diagnostik & Terapi Presisi Kanker Foshan Chanyi
Dosen Madya, Universitas Pengobatan Tradisional Tiongkok Guangzhou
Apa itu Kanker Tenggorokan?
Kanker tenggorokan dapat dibagi menjadi kanker primer dan sekunder, tergantung dari lokasi awal kemunculannya. Kanker tenggorokan primer adalah kanker yang berasal langsung dari jaringan tenggorokan (laring), mencakup lebih dari 90% kasus dan biasanya memiliki tingkat keganasan yang lebih rendah karena selnya lebih terdiferensiasi. Sementara itu, kanker tenggorokan sekunder lebih jarang ditemukan, dan terjadi ketika sel kanker dari organ lain menyebar ke area tenggorokan.

Bagaimana Gambaran Umum Kanker Tenggorokan di Indonesia?
Di Indonesia, kanker tenggorokan menempati peringkat ke-12 dari seluruh jenis kanker ganas pada pria. Pada tahun 2022, diperkirakan terdapat sekitar 2.500 kasus baru, mencakup sekitar 18% dari seluruh tumor di area kepala dan leher. Jenis yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa (sekitar 90%), disusul oleh adenokarsinoma (5%), serta jenis lainnya yang lebih jarang (5%). Akibat gejala awal yang sering tidak spesifik dan keterlambatan dalam diagnosis, angka kelangsungan hidup lima tahun secara keseluruhan hanya berkisar 45–55%, jauh lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Singapura yang mencapai 65–70%.
Tiga faktor utama yang memengaruhi risiko kanker tenggorokan di Indonesia adalah: Pertama, kebiasaan merokok dan mengunyah pinang. Di wilayah seperti Sumatera dan Kalimantan, angka perokok pria mencapai 65%, dan lebih dari 40% pria juga terbiasa mengunyah pinang. Kedua, infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe 16, yang sering ditemukan pada pasien kanker tenggorokan usia muda.
Ketiga, paparan jangka panjang terhadap polusi industri dan bahan kimia berbahaya di tempat kerja. Di kawasan industri Jakarta, tingkat kejadian kanker pada pekerja tercatat 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum.
Apa Saja Gejala Klinis Kanker Tenggorokan?
1. Kanker Glotis (pada pita suara): Gejala awal yang paling umum adalah suara serak, disertai nyeri tenggorokan atau nyeri pada telinga. Nyeri pada area tulang rawan tiroid (di bagian depan leher) dan sumbatan saluran napas biasanya muncul pada stadium lanjut.
2. Kanker Supraglotis (di atas pita suara): Nyeri saat menelan dengan intensitas ringan hingga sedang merupakan gejala awal yang paling umum. Sebagian pasien juga mengeluhkan rasa seperti ada yang mengganjal saat menelan. Suara serak bukanlah gejala utama, kecuali bila kanker sudah menyebar hingga ke pita suara. Kanker supraglotis memiliki risiko tinggi menyebar ke kelenjar getah bening, dan sering tampak sebagai benjolan di leher. Pada stadium lanjut, kanker dapat menyebar luas dan menimbulkan gejala tambahan seperti: Nyeri telinga, tersedak saat minum, kesulitan menelan, sesak napas, penurunan berat badan, napas berbau tidak sedap jika tumor mengalami infeksi atau kerusakan jaringan, risiko perdarahan hebat jika tumor mengalami luka dalam.
3. Kanker Subglotis (bawah pita suara):
Pada tahap awal, gejalanya sering tidak jelas dan mudah disalah artikan sebagai penyakit lain. Saat tumor berkembang lebih lanjut, bisa muncul batuk kering yang menetap, batuk berdarah, atau sesak napas jika area subglotis tersumbat. Jika tumor menyebar hingga ke pita suara, maka akan timbul suara serak.
