2025-10-10
Sebelum menstruasi: perlahan membesar dan terasa tegang
Saat menstruasi: nyeri sangat hebat hingga terasa tak tertahankan
Setelah menstruasi: tiba-tiba kembali “normal”
......
Jika di sekitar bekas operasi caesar Anda
juga terdapat benjolan yang “berdenyut”, ukurannya dapat membesar, dan terasa nyeri, jangan tunda! Segera periksakan diri ke dokter!
Apa Itu Endometriosis Dinding Perut (Abdominal Wall Endometriosis/AWE)?
Secara sederhana, endometriosis dinding perut terjadi ketika jaringan endometrium—yang seharusnya berada di dalam rongga rahim—“berpindah tempat” dan menempel pada bekas luka operasi di dinding perut atau jaringan di sekitarnya. Jaringan endometrium yang berada di lokasi tidak normal ini tetap berperilaku seperti endometrium normal: mengalami penebalan dan perdarahan setiap bulan. Namun, karena darah tersebut tidak dapat keluar, maka terbentuk benjolan nyeri di lokasi tersebut, yang dapat kambuh berulang kali dan menyebabkan nyeri hebat setiap bulan.
Perhatian: AWE paling sering terjadi setelah operasi caesar. Kondisi ini dapat muncul beberapa bulan bahkan hingga bertahun-tahun setelah operasi. Seiring berjalannya waktu, nyeri saat menstruasi biasanya semakin berat pada setiap siklusnya.
Endometriosis jenis ini memiliki dua pola pertumbuhan: Tumbuh ke arah luar, sehingga tampak sebagai benjolan yang menonjol di permukaan kulit. Saat menstruasi, benjolan ini tidak hanya terasa nyeri, tetapi dapat disertai perdarahan. Tumbuh ke arah dalam, sehingga tidak terlihat dari luar, namun jaringan endometrium telah nenumpuk di dalam perut dan membentuk benjolan padat yang terasa keras saat di periksa.
Tiga Tanda Peringatan Utama, Periksa Diri Anda Sekarang
· Nyeri yang terkait dengan siklus menstruasi: Benjolan mulai terasa nyeri 1–2 hari sebelum menstruasi, dengan nyeri paling hebat saat menstruasi;
· Benjolan keras yang dapat diraba: Terdapat benjolan padat yang dapat diraba 1–5 cm dari bekas luka operasi, dan benjolan ini dapat membesar secara bertahap;
· Riwayat operasi caesar: Sekitar 80% pasien sebelumnya pernah menjalani operasi caesar.
Operasi adalah “Gold standart” untuk Mengatasi AWE!
Obat-obatan sering kali tidak mampu sepenuhnya menghilangkan lesi yang tumbuh di kedalaman, sementara terapi ablasi mahal, membutuhkan waktu pemulihan lebih lama, dan tidak diterima oleh banyak pasien. Saat ini, teknik bedah minim invasif, presisi, dan canggih—yaitu eksisi ekstraperitoneal secara laparoskopi terhadap lesi endometriosis dinding perut—telah menjadi senjata ampuh dalam penanganan AWE!
Eksisi Laparoskopi Endometriosis Dinding Perut
Ibu He, 35 tahun, mulai mengalami dismenore (nyeri haid) empat tahun setelah menjalani operasi caesar. Nyeri muncul secara kambuhan dan berlangsung lebih dari satu tahun. Ia didiagnosis menderita endometriosis di rumah sakit lain dan pernah menjalani pengobatan dengan Yaz (drospirenone/ethinylestradiol) dan dienogest, namun tidak memberikan perbaikan. Ia kemudian datang ke Shenzhen Hengsheng Hospital untuk berkonsultasi dengan Direktur Han Fang dari Departemen Ginekologi.
Setelah evaluasi, Direktur Han menemukan bahwa lesi Ibu He cukup dalam. Jika dilakukan operasi terbuka konvensional, akan menimbulkan kerusakan jaringan lebih besar dan risiko komplikasi lebih tinggi. Oleh karena itu, direncanakan eksisi ekstraperitoneal lesi endometriosis dinding perut secara laparoskopi. Dengan menggunakan laparoskopi, ruang operasi subkutan dibuat dan diperluas, sehingga memungkinkan pengangkatan lesi secara lengkap sambil meminimalkan trauma bedah.

Tim dokter yang di pimpinan Direktur Han Fang melakukan operasi untuk pasien.
Prosedur ini memiliki banyak keungulan, terutama untuk membersihkan lesi endometriotis yang berasa di bawah kulit dan cukup dalam. Operasi ini hanya membutuhkan sayatan kecil, kerusakan jaringan minimal, nyeri lenih ringan, dan pemulihan lebih cepat. Ibu He pulih dan keluar dari rumah sakit hanya dalam dua hari, dan merasa sangat puas dengan hasil operasinya.
Tiga keunggulan Utama Operasi Laparoskopi —Kurangi Nyeri dengan Mudah!
Operasi “lubang kunci”, trauma minimal: Hanya dibuat beberapa sayatan kecil 5–10 mm di perut, seperti lubang kunci. Lewat lubang kecil ini, dokter memasukkan laparoskop kamera tajam dan alat bedah halus, sehingga kerusakan jaringan dan rasa sakit lebih sedikit.
Akses langsung ke lesi, lebih aman: Dengan metode khusus ekstraperitoneal, operasi ini tidak masuk ke rongga perut dan bekerja langsung di ruang antara otot perut dan lapisan peritoneum. Cara ini menghindari gangguan pada organ dalam seperti usus dan membuat operasi lebih aman.
Tampilan jelas seperti kaca pembesar, pengangkatan lebih lengkap: Kamera laparoskop memperbesar dan memperjelas area operasi, sehingga lesi tidak ada yang terlewat. Hal ini membuat pengangkatan lebih menyeluruh dan mengurangi risiko kekambuhan.
Bagaimana Mencegah Endometriosis Dinding Perut (AWE)? Ingat 3 Point Ini!
① Kurangi risiko akibat operasi: Hindari operasi yang tidak perlu di perut atau organ reproduksi. Jika memungkinkan, persalinan normal lebih dianjurkan daripada operasi caesar, agar risiko endometriosis di bekas luka berkurang.
② Dukung menyusui: Menyusui setelah melahirkan bisa menunda menstruasi, mengurangi rangsangan hormon pada jaringan endometrium yang salah tempat, dan menurunkan risiko tumbuhnya jaringan endometrium di bekas luka operasi.

③ Periksa rutin setelah melahirkan: Lakukan kontrol rutin setelah operasi caesar. Jika muncul benjolan nyeri di dekat bekas luka yang terasa sakit saat haid, segera periksa ke dokter agar bisa didiagnosis dan ditangani lebih awal.