Fokus pada Bedah Presisi Minim Invasif: Rumah Sakit Fosun Merevolusi Model Diagnostik dan Terapi Tumor dengan Robot Bedah Da Vinci dan CyberKnife

2025-08-13

Area sempit yang sulit dijangkau pisau bedah konvensional kini dapat ditangani oleh robot, sedangkan radioterapi biasa yang terlalu banyak merusak jaringan sehat dapat digantikan oleh CyberKnife dengan bantuan algoritma AI untuk radioterapi presisi… Sebagai tolok ukur layanan kesehatan cerdas di Kawasan Teluk Besar Guangdong-Hongkong-Makau, Foshan Fosun Chancheng Hospital (disingkat “Rumah Sakit Fosun Chancheng”) menghadirkan robot bedah Da Vinci dan sistem CyberKnife generasi keenam, membangun sistem perawatan lengkap untuk tumor yang mencakup “pengangkatan presisi – radioterapi non-invasif.” Kedua teknologi kelas dunia ini bukan hanya mendefinisikan ulang batasan bedah dan radioterapi, tetapi juga berfokus pada “minim invasif, presisi, dan cerdas” untuk memberikan lebih banyak pilihan pengobatan bagi pasien kanker.


Dari menyelamatkan nyawa hingga menjaga fungsi, robot bedah Da Vinci menjadi “asisten andalan” dokter

Sistem saluran kemih memiliki struktur anatomi yang sangat khusus: dikelilingi jaringan kompleks, suplai darah melimpah, dan ruang operasi yang sempit. Jika dilakukan dengan pembedahan konvensional, luka besar, pemulihan lambat, dan risiko komplikasi tinggi, sementara bedah laparoskopi menghadapi keterbatasan berupa tingkat kesulitan tinggi dan kurangnya stabilitas. Di Departemen Urologi Rumah Sakit Fosun Chancheng, sejak dua tahun lalu menghadirkan “asisten andalan” bagi dokter — robot bedah Da Vinci Xi generasi keempat — keterbatasan bedah konvensional dan laparoskopi berhasil teratasi.


Adrianus, pria 49 tahun asal Bali, Indonesia, telah menderita hipertensi selama 6 tahun. Ia telah mengonsumsi berbagai obat penurun tekanan darah namun efeknya kurang baik. Hasil pemeriksaan saat dirawat menunjukkan ia menderita adenoma korteks adrenal kanan dan angiomiolipoma ginjal kanan. Adenoma korteks adrenal ini menghasilkan hormon aldosteron yang menyebabkan tekanan darahnya meningkat, yang menjadi alasan hipertensinya sulit terkontrol. Namun, tumor ginjal kanannya berada di sekitar hilus ginjal yang padat pembuluh darah, sehingga operasi untuk mengangkat “dua bom” sekaligus bukanlah hal mudah — pembedahan konvensional berisiko tinggi menyebabkan perdarahan besar. Prof. Huang Jian, ahli terkemuka di Tiongkok dalam bedah minim invasif tumor urologi, Ketua Perhimpunan Urologi Asosiasi Medis Tiongkok, Kepala Departemen Urologi Rumah Sakit Memorial Sun Yat-sen Universitas Sun Yat-sen, sekaligus profesor tamu di Departemen Urologi Rumah Sakit Fosun Chancheng, memimpin tim urologi Rumah Sakit Fosun Chancheng bekerja sama dengan robot bedah Da Vinci Xi generasi keempat untuk menyelesaikan operasi berisiko tinggi ini dengan sukses. Selama operasi, berkat tampilan 3D definisi tinggi dengan pembesaran 10–15 kali, pergelangan tangan robotik yang dapat berputar 540° dengan presisi hingga 0,1 mm, serta sistem penstabil yang menghilangkan getaran, dokter dapat menjangkau area yang tidak bisa diakses dengan bedah konvensional, dengan presisi mengupas dan mengangkat kedua tumor tersebut. Volume perdarahan hanya 20 ml, dan pasien sudah dapat bangun dari tempat tidur keesokan harinya.


Dengan bantuan robot bedah, dokter tidak hanya dapat mengangkat tumor secara presisi, membersihkan kelenjar getah bening, serta melakukan anastomosis dan rekonstruksi, tetapi juga lebih mudah melindungi saraf dan pembuluh darah, sehingga lebih banyak pasien dapat mencapai harapan untuk mempertahankan fungsi ginjal, fungsi seksual, dan kontrol urin. “Pengalaman pasien dalam perawatan meningkat secara nyata, dan tingkat kepuasan melonjak signifikan,” ujar Zheng Bin, Kepala Departemen Urologi Rumah Sakit Fosun Chancheng. Ia menambahkan, prosedur operasi di departemennya paling banyak dilakukan untuk kanker prostat, disusul kanker ginjal. Dalam operasi radikal kanker prostat atau operasi kompleks untuk mempertahankan ginjal pada kanker ginjal, penggunaan robot Da Vinci memungkinkan pengangkatan di sepanjang batas tumor lalu dilanjutkan dengan rekonstruksi jaringan, sehingga dapat mempertahankan lebih banyak fungsi organ. Tingkat kekambuhan tumor tidak meningkat, dan komplikasi pascaoperasi seperti perdarahan atau kebocoran urin pun berkurang.


Sejak menghadirkan robot bedah Da Vinci, para ahli bedah di Rumah Sakit Fosun Chancheng aktif mengikuti pelatihan dan evaluasi ketat, sehingga tercapai tingkat koordinasi yang tinggi dengan “asisten andalan” ini. Kini teknologi tersebut telah dikuasai dan digunakan secara terampil di berbagai bidang bedah, termasuk urologi, bedah toraks, ginekologi, pencernaan, hepatobilier, serta bedah payudara.


Baru-baru ini, Song Changshan, Kepala Departemen Bedah Toraks Rumah Sakit Fosun Chancheng, melakukan operasi pengangkatan tumor mediastinum besar pada pasien berusia 91 tahun. “Nenek ini memiliki tumor mediastinum berukuran 13 cm, dan sebelumnya telah mengunjungi banyak rumah sakit tetapi semuanya mengatakan tidak bisa dioperasi, karena operasi konvensional membutuhkan pembelahan tulang dada yang sangat invasif. Pada usia seperti ini, nenek kemungkinan besar tidak akan mampu menanggungnya. Dengan robot Da Vinci, operasi di ruang sempit mediastinum dapat dilakukan dengan sayatan kurang dari satu sentimeter, dan waktu operasi pun jauh lebih singkat,” jelas Song. Menurutnya, keterlibatan robot dalam praktik bedah merupakan terobosan revolusioner, terutama untuk operasi kuratif kanker paru-paru, kanker esofagus, dan kanker ganas toraks lainnya, karena mampu membersihkan kelenjar getah bening dengan sangat presisi — sebuah faktor yang sangat penting dalam pengobatan kanker ganas di bidang bedah toraks, dan belum dapat ditandingi teknologi lain saat ini.

Pemanfaatan algoritma AI untuk pelokalan presisi, CyberKnife mencapai terobosan dalam terapi individual

Seiring pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI) terus mengubah kehidupan dan pekerjaan kita. Dalam bidang medis, CyberKnife memanfaatkan algoritma AI untuk pelokalan presisi dan pelacakan dinamis tumor. Dengan menggabungkan pemindaian 4D-CT dan analisis citra secara real-time, AI dapat memprediksi pergerakan tumor akibat pernapasan atau aktivitas fisiologis lainnya, memastikan sinar radiasi selalu terkunci pada target.


Agung menderita glioblastoma batang otak. Setelah mencari pengobatan di Beijing, Shanghai, dan tempat lain, ia mengetahui bahwa Prof. Wang Enmin — mantan Direktur Pusat CyberKnife di Rumah Sakit Huashan Universitas Fudan dan kini Kepala Ahli Bedah Radiasi di Pusat Diagnostik dan Terapi Presisi Kanker Rumah Sakit Fosun Chancheng — memiliki pengalaman luas dalam penggunaan teknologi CyberKnife untuk menangani tumor batang otak. Agung pun datang ke Rumah Sakit Fosun Chancheng. Prof. Wang Enmin merancang rencana terapi CyberKnife bertahap yang dipersonalisasi untuknya. Setelah menyelesaikan terapi CyberKnife, ia diberikan perawatan rutin untuk mengurangi cairan berlebih (terapi dehidrasi). Satu bulan pasca perawatan, mati rasa pada anggota tubuh Agung berkurang, dan setelah dua bulan gejala menghilang. Pemeriksaan ulang menunjukkan ukuran tumornya menyusut 70%.


Seperti Agung, banyak pasien dari berbagai daerah datang mencari Prof. Wang Enmin. Salah satunya adalah Pak Xiao, 65 tahun, asal Zhejiang, yang didiagnosis menderita adenokarsinoma paru dengan metastasis otak. Tidak ada yang menyangka ia bukan hanya mampu bertahan hidup selama 7 tahun, tetapi juga dapat bekerja dan hidup layaknya orang sehat. Rahasia di balik pencapaian ini adalah “kombinasi emas” yang dikembangkan Prof. Wang, yaitu CyberKnife plus obat terapi target. Strategi ini menunda resistansi terhadap obat terapi target, secara presisi menghilangkan lesi metastasis otak, dan bahkan membuat lesi primer di paru-paru berubah menjadi jaringan parut. “Penggunaan CyberKnife bersama imunoterapi dapat merangsang sistem kekebalan tubuh, menghasilkan efek sinergis yang lebih besar dari penjumlahan efek keduanya,” ujar Prof. Wang.


Beliau juga menjelaskan bahwa untuk glioblastoma yang rawan kambuh, Rumah Sakit Fosun Chancheng memimpin penelitian klinis yang menggabungkan CyberKnife dengan bevacizumab untuk mengobati glioma kambuhan, dengan tujuan memperpanjang harapan hidup pasien menjadi 3,5 hingga 5 tahun.


CyberKnife, atau yang juga disebut “platform bedah radiasi stereotaktik”, meskipun namanya membuat orang membayangkan pisau bedah atau tindakan pembedahan, sebenarnya sama sekali tidak melibatkan prosedur invasif. Tidak ada sayatan, tidak ada perdarahan, tidak ada rasa sakit. Sistem bedah radiasi otomatis ini digunakan untuk mengobati tumor di seluruh bagian tubuh dengan cara non-invasif.


Saat ini, teknologi CyberKnife di Rumah Sakit Fosun Chancheng telah mencapai tingkat internasional terdepan. Pertama, unit ini memiliki generasi keenam CyberKnife M6, salah satu peralatan terapi bedah radiasi paling canggih di dunia, dengan keunggulan akurasi sub-milimeter, pelacakan dinamis, serta efisiensi tinggi tanpa invasif. Kedua, timnya dipimpin oleh Dr. Yang Jun, pakar kontrol kualitas fisika CyberKnife berskala internasional, yang pada 2003 ikut mendirikan Pusat CyberKnife Philadelphia, menjadi salah satu penyusun pedoman standar kualitas fisik CyberKnife versi lama dan baru (TG135), serta pernah memimpin dan mengelola 34 pusat radioterapi dan 16 unit CyberKnife di Amerika Serikat. Pusat CyberKnife Fosun dibangun mengikuti standar internasional tinggi, dan menjadi yang pertama serta satu-satunya di Tiongkok dan Asia yang menjadi anggota Asosiasi Bedah Radiasi Internasional (dari total 14 anggota global), dengan standar dan sistem kontrol kualitas yang diakui oleh otoritas industri internasional. Ketiga, secara klinis, sejak 2007 hingga kini, Prof. Wang telah menangani lebih dari 16.000 pasien dengan teknologi CyberKnife.


Lü Qiuxia, Wakil Direktur Pusat Diagnostik dan Terapi Presisi Kanker serta Pusat CyberKnife Rumah Sakit Fosun Chancheng, mengatakan bahwa pusat ini memiliki “prajurit” dan “senjata” yang sama-sama kelas atas. Untuk tumor stadium awal, CyberKnife dapat langsung memusnahkan tumor di tempat secara non-invasif dan menyembuhkannya. Untuk tumor stadium menengah, CyberKnife dapat menjadi salah satu bagian dari pengobatan terpadu. Sedangkan pada stadium lanjut, CyberKnife dapat digunakan bersama obat-obatan, terapi target, maupun imunoterapi untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien.


Dari “tarian mekanis” robot Da Vinci hingga “sniper kuantum” CyberKnife, Rumah Sakit Fosun Chancheng menggunakan inovasi teknologi untuk mendefinisikan kembali batas-batas diagnosis dan terapi kanker. Setiap gerakan robot Da Vinci, setiap fokus sinar radiasi, merepresentasikan perjalanan dari “pembedahan besar” menuju “bedah mikro presisi”, hingga “pemusnahan tumor tanpa sayatan”. Teknologi memungkinkan lebih banyak pasien mendapatkan harapan hidup dengan trauma yang lebih kecil dan pemulihan yang lebih cepat.


Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251