Nyeri Perut Mengungkap Kanker Rektum dengan Metastasis Hati Sinkron: Foshan Chancheng Hospital Wujudkan “Terapi Sinkron” melalui MDT dan Robot Da Vinci

2026-01-22

 Baru-baru ini, seorang pasien berusia 70 tahun, Mr. Li (nama samaran), datang berobat karena keluhan nyeri dan kembung pada perut. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, ia didiagnosis menderita kanker rektum yang disertai obstruksi usus, serta metastasis hati.

 Di bawah panduan tim Multidisciplinary Team (MDT) di Foshan Fosun Chancheng Hospital, para ahli bedah memanfaatkan Sistem Bedah Robotik Da Vinci untuk melakukan reseksi sinkron. Kedua tumor berhasil diangkat dalam satu kali operasi, memberikan pasien kesempatan baru untuk melanjutkan hidup dengan harapan yang lebih besar.

Nyeri Perut Mendadak Mengungkap Bahaya Tersembunyi: Obstruksi dan Metastasis

Mr. Li awalnya datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan “nyeri perut dan kembung yang muncul secara tiba-tiba.” Setelah pemeriksaan, ia didiagnosis mengalami obstruksi usus yang disebabkan oleh tumor rektum. Pemeriksaan CT lanjutan kemudian menemukan adanya lesi yang menempati ruang di hati, yang mengonfirmasi diagnosis kanker rektum dengan metastasis ke hati.

 Mengingat kondisi obstruksi yang akut, tim medis terlebih dahulu melakukan pemasangan stent untuk mengurangi tekanan pada usus dan meredakan gejala. Setelah kondisi pasien lebih stabil, evaluasi lanjutan menunjukkan bahwa meskipun penyakitnya tergolong berat, metastasis di hati masih dapat direseksi secara teknis, sehingga membuka peluang untuk dilakukan tindakan pembedahan kuratif.

Kolaborasi MDT: Strategi Kuratif “Satu Tahap”

Menghadapi kasus yang kompleks ini, Foshan Fosun Chancheng Hospital segera mengaktifkan model Multidisciplinary Team (MDT). Para ahli dari Departemen Bedah Gastrointestinal serta Bedah Hepatobilier dan Pankreas melakukan konsultasi bersama dan diskusi berulang untuk merumuskan rencana operasi minimal invasif dengan pendekatan dua arah: pertama, mengangkat metastasis hati sekaligus kantong empedu; kemudian melakukan reseksi radikal kanker rektum. Strategi ini memungkinkan kedua lesi ditangani dalam satu kali operasi, sehingga mengurangi trauma dan mempercepat pemulihan pasien.

Tahap I: Resepsi Presisi Metastasis Hati Kompleks + Kolesistektomi

Tahap pertama operasi dipimpin oleh Wakil Kepala Dokter Zhang Haixiong dari Departemen Bedah Hepatobilier dan Pankreas. Dengan memanfaatkan teknologi laparoskopi beresolusi tinggi, area operasi dapat diperbesar hingga 10 kali, memungkinkan lokalisasi metastasis hati pada tingkat milimeter. Dikombinasikan dengan fleksibilitas lengan robotik Da Vinci, tim bedah berhasil mengangkat jaringan tumor hati secara teliti dan menyeluruh.

Sebagai langkah pencegahan terhadap komplikasi sistem bilier pascaoperasi, Dr. Zhang Haixiong juga melakukan kolesistektomi (pengangkatan kantong empedu) dalam prosedur yang sama, guna semakin menjamin keamanan dan keberhasilan tindakan bedah.

8b3f08c0-bf09-4a88-9a43-cdd01d6cd630.png.png

ebce3a7a-270c-42e7-aa35-dc3d6f84b1c9.png.png

Tahap II: Robot Da Vinci Menaklukkan Tumor Rektum

Setelah operasi hati dan kantong empedu selesai, prosedur berlanjut secara mulus dengan sistem bedah berbantuan robot Da Vinci. Dipimpin oleh Dr. Liao Jiannan, Kepala Dokter Bedah Gastrointestinal, dilakukan reseksi radikal kanker rektum. Ruang panggul yang sempit menjadi tantangan besar dalam operasi ini. Namun, lengan robotik yang mampu berputar hingga 540° berhasil mengatasi keterbatasan sudut pandang dan pergerakan pada pembedahan konvensional. Di bawah kendali presisi Dr. Liao, jaringan dibedah secara bertahap dan sistematis, hingga lesi dapat diangkat dengan akurat.

Selama operasi, tim tidak hanya mengangkat tumor rektum beserta kelenjar getah bening yang berpotensi terdampak, tetapi juga secara efektif menangani perlengketan intraabdomen akibat infiltrasi tumor. Seluruh prosedur berlangsung lancar dan efisien, menciptakan kondisi yang optimal bagi pemulihan pascaoperasi Mr. Li.

40394eff-8b63-4df9-bfbb-71b6d8fb486a.png.png

Keunggulan Teknologi Minimally Invasive

Menurut Direktur Liao Jiannan dan Zhang Haixiong, kasus kompleks dengan dua tumor yang mengalami metastasis sebelumnya sering kali membutuhkan beberapa kali operasi terbuka. Prosedur tersebut tidak hanya bersifat sangat invasif, tetapi juga memerlukan waktu pemulihan yang lama bagi pasien. Namun, dengan bantuan teknik minimally invasive seperti robot bedah da Vinci, dikombinasikan dengan pendekatan kolaboratif multidisiplin, "pengobatan kanker ganda" dapat diselesaikan dalam satu kali anestesi, sehingga trauma operasi berkurang secara signifikan dan pemulihan pascaoperasi menjadi lebih cepat. 

Harapan bagi Kanker Stadium Lanjut

Banyak orang percaya bahwa metastasis tumor berarti "tidak bisa disembuhkan," tetapi praktik klinis menunjukkan bahwa pasien dengan kanker rektum yang menyebar ke hati dapat meningkatkan angka harapan hidup 5 tahun melalui pengobatan komprehensif yang terstandarisasi, termasuk operasi radikal yang dikombinasikan dengan kemoterapi adjuvan dan terapi target pascaoperasi. Hal ini memberikan harapan nyata bagi pasien dengan penyakit stadium lanjut. 

 Untuk kasus kompleks seperti ini, inti dari pengobatan yang ilmiah dan efektif terletak pada tiga hal:

  1. Teknologi bedah minimal invasive:Mengandalkan peralatan canggih seperti robot da Vinci dan laparoskopi, trauma operasi berkurang, rasa nyeri pasien berkurang, dan waktu pemulihan lebih singkat.

 

2.    Kolaborasi multidisiplin yang erat: Kerja sama antara departemen bedah, onkologi, dan radiologi menghapus batasan antar disiplin untuk mengembangkan rencana pengobatan optimal yang dipersonalisasi bagi pasien.


3.     Pengobatan presisi individual: Berdasarkan lokasi, jumlah, dan ukuran metastasis tumor, strategi bedah disesuaikan secara fleksibel untuk menyeimbangkan efektivitas pengobatan dan kualitas hidup pasien.

Pengingat Ahli: Deteksi Dini Sangat Penting

Gejala awal kanker rektum sering kali mudah disalahartikan sebagai wasir, sehingga diagnosis dan pengobatan banyak pasien menjadi terlambat. Para ahli menyarankan, jika muncul gejala berikut, segera periksakan diri untuk memastikan kemungkinan adanya tumor:

1.     Nyeri perut yang persisten, darah atau lendir pada tinja

 

2.    Perubahan bentuk tinja dan kebiasaan buang air besar (misalnya diare dan sembelit bergantian)


3.     Penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, kelelahan, dan anemia

Mendeteksi, mendiagnosis, dan merawat sejak awal merupakan kunci untuk meningkatkan tingkat kesembuhan dan angka harapan hidup penderita kanker kolorektal. Pemeriksaan kolonoskopi secara rutin adalah salah satu cara efektif untuk skrining kanker kolorektal.


Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251